Yokohama, 1942.
Adalah sebuah kota yang terletak sangat dekat dari pantai.
Kapal-kapal perang ataupun kapal yang membawa hasil tangkapan ikan sering
berlabuh di Yokohama. Sebuah kota yang sangat tenteram jikalau kau membayangkan
betapa indahnya suasana kota yang berada di dekat pantai.
Masalahnya, Yokohama tidak setenteram seperti yang banyak orang
bayangkan. Tahun ini adalah tahun 1942, Jepang ikut terlibat dalam perang dunia
ke-2. Pelabuhan Yokohama sangat dibutuhkan. Di dekatnya, banyak terdapat kapal
perang. Banyak juga polisi militer yang muncul di sekitar pelabuhan Yokohama.
Mengingat Yokohama kota yang sangat penting, maka dari itu dibuatlah markas
polisi militer di Yokohama.
Bukanlah perang dunia yang sedang dihadapi penduduk di sekitar
Yokohama. Tetapi, terkait kasus hilangnya kapal penangkap ikan terbesar,
“Ichiyo”. Kapal penangkap ikan itu diduga hilang lebih dari lima bulan lamanya.
Nahkoda kapal itu, Jun Ishida tidak dapat dihubungi. Kapal itu telah menghilang
entah kemana.
Di samping itu, sempat terjadi pertempuran hebat di sekitar bibir
pantai sebelah timur Yokohama. Jauh dari pelabuhan Yokohama, pertempuran itu
terjadi. Pertempuran antara pihak kepolisian militer dengan perompak kapal yang
baru saja tiba di Jepang.
Adalah kapten Miyoshi, petinggi kepolisian militer itu baru saja
tiba di lokasi pertempuran. Ia melihat mayat dari anggota perompak dan mayat
dari sebagian anggota polisi militer bergelimpangan. Kapten Miyoshi langsung
menutup hidung, tak tahan akan bau busuk yang ditimbulkan oleh para mayat.
Darah mereka masih berceceran. Apalagi belum ada turun hujan yang bisa
membersihkan bekas darah para mayat tersebut.
Miyoshi melangkah. Menendangi mayat-mayat para perompak sesekali
memaki dengan keras. Miyoshi menatap sekeliling pantai suasana nampak suram
akibat bekas pertempuran. Seharusnya ia menghubungi anggota yang tersisa untuk
membersihkan semua ini. Masalahnya, tempat pertempuran tersebut sangat jauh
dari pelabuhan pusat Yokohama. Apalagi medan yang penuh batu-batu karang besar
dan masih terlihat liar menambah pantai tersebut seperti pantai yang terkutuk.
Pada akhirnya, kedua mata kapten Miyoshi berhenti pada sebuah kapal
besar yang rusak dan terdampat tak jauh dari mayat-mayat perompak. Miyoshi
mendekat ke arah kapal yang sudah rusak tersebut. Ia melongok ke dalam. Kapal
itu telah rusak luar dan dalam. Bagian sampingnya berlubang. Lubang yang cukup
besar. Miyoshi menyelinap masuk ke dalam untuk melihat isi kapal.
Miyoshi mengira jika kapal tersebut adalah kapal nelayan biasa yang
terdampar dan diserbu olek kawanan perompak. Namun, dugaan itu salah. Di
dalamnya, terlihat mayat awak kapal yang bergelimpangan. Bau busuk semakin
menyengat. Miyoshi semakin menutup hidungnya.
Banyak darah berceceran di dalam kapal itu. hal yang paling
mengejutkannya adalah mayat seorang awak kapal yang terkapar di lantai. Di
tangan kanannya, terdapat sebuah buku catatan kecil.
Miyoshi mengenal dengan jelas siapa mayat tersebut. Diambilnya buku
catatan tersebut. “Tomoya Seo.” Miyoshi mengeja nama yang ada di sampul depan
buku catatan tersebut.
Tomoya seo, ia kenal betul orang itu. ia adalah orang yang pernah
menjadi bawahan Miyoshi sewaktu masuk ke polisi militer. Setelah tak tahan akan
beratnya aktivitas di polisi militer, Seo akhirnya keluar. Miyoshi tak
menyangka, jika Seo bekerja sebagai bagian dari awak kapal dan mati secara
mengenaskan.
Setelah dilihat-lihat, Miyoshi baru menyadari sesuatu. Bahwa kapal
tersebut bukanlah kapal sembarangan. Miyoshi keluar untuk memastikan sesuatu.
Mata Miyoshi terbelalak. Ternyata benar dugaannya. Kapal tersebut
bukanlah kapal biasa. Itu adalah kapal penangkap ikan terbesar yang sedang
diberitakan menghilang. Miyoshi tidak menyangka jika ia menemukan kapal besar
itu yang dalam keadaan rusak parah dengan seluruh awak kapal yang mati di
dalamnya.
Ketika ia menemukan kapal penangkap ikan Ichiyo dan sebuah buku
catatan, ia langsung berlari. Bergegas ke kantor atasannya. Meskipun Miyoshi
adalah seorang kapten, tapi ia masih mempunyai atasan. Yaitu Tuan Jistui.
Jitsui adalah pemimpin kepolisian militer yang memimpin daerah
Yokohama dan seluruh pelabuhan di seluruh Jepang. Miyoshi bergegas ke tempat
Jitsui. Untungnya, Jitsui sedang berada di Yokohama dan tidak berada di daerah
lain. Maka dari itu, Miyoshi cepat-cepat memberitahukan kepada Jitsui tentang
kapal penagkap ikan yang hilang tersebut.
Sesampainya di kantor Jitsui, Miyoshi membungkukkan badan. Hormat
kepada Jitsui yang menjadi atasannya.
“Jitsui-sama, aku menemukan kapal penangkap ikan Ichiyo di
pantai sebelah timur Yokohama.“
Jitsui mengangguk pelan. “Ichiyo? Apa maksudmu melaporkan hal itu
kepadaku?”
Miyoshi menyodorkan buku catatan yang telah using yang baru
ditemukannya kepada Jitsui. Sambil menundukkan kepala, ia berkata, “Aku
menemukan buku catatan ini di kapal Ichiyo yang telah rusak ini.”
Jitsui mengambi buku tersebut. Ia memegang dagunya. Mengusap-usap
pelan. “Apakah ini adalah sebuah rahasia?”
Miyoshi mengangkat bahunya. “Siapa tahu. Saya juga belum
membacanya, Jistui-sama. Saya hanya menemukan buku ini. Di samping itu,
kapal ini terletak tidak jauh dari lokasi pertempuran. Saya yakin, jika
pertempuran tersebut ada hubungannya dengan kapal ini.”
Jitsui masih memegang buku tersebut. “Baiklah. Mungkin aka nada
sedikit informasi jika kita membacanya. aku tahu, kau juga sangat ingin
membacanya bukan?”
Miyoshi mengangguk pelan. “Tentu, Jitsui-sama.”
Miyoshi melangkah menuju sisi Jitsui. Tangan-tangan besar Jitsui
memegang sampul buku yang sudah usang. Membukanya dengan pelan-pelan.
Ini baru permulaan halaman. Keduanya akan merasakan seperti apa
yang dituliskan sesuai isi buku.
*
Januari, 1942
Ini adalah buku
catatan pertamaku setelah aku keluar dari kepolisian militer dan memilih
bekerja di kapal besar ini.
Namaku Tomoya Seo, 24 tahun. Aku sengaja melamar menjadi awak
kapal. Alasannya cukup sederhana. Aku ingin pergi sejauh-jauhnya dan tak ingin
kembali ke polisi militer yang cukup melelahkan.
Awak kapal biasanya memanggilku Seo. Seharusnya mereka memanggil
nama depanku. Tapi itu tak masalah bagiku. Ishida-sama yang pertama kali
memanggilku Seo.
Kubilang ini adalah hari pertamaku. Pukul 6 tepat, kapal Ichiyo ini
sudah berlabuh meninggalkan pelabuhan Yokohama dan pergi untuk mencari ikan.
Menurutku, kapal ini tergolong canggih. Jarring-jaring yang besar dan kemampuan
Ishida-sama dalam memperkirakan perairan mana yang lebih banyak ikannya
dengan memperhatikan arah angin, gelombang air laut, dan burung-burung yang
terbang di atasnya.
Sekitar beberapa jam, ikan-ikan sudah terjaring. Kami mendapatkan
tangkapan ikan paling besar sekitar pukul 4 sore. Seekor ikan tuna yang
berbobot 200 kg tertangkap. Bukan hanya itu, kami juga banyak menangkap ikan
salmon dan ikan sarden. Bagian penampung langsung penuh. Itu hanya hari
pertamaku bekerja di kapal ini. Bahkan Ishida-sama memujiku saat aku
berhasil menarik jarring-jaring yang berisi banyak ikan.
Pada hari kedua, entah mengapa hari ini tidak seberuntung hari
kemarin. Angin berhembus sangat kencang. Hingga baju-bajuku hampir
berterbangan. Ombak laut di atas 5 meter. Ishida-sama memperkirakan jika
ikan lebih banyak bersembunyi pada cuaca yang seperti ini.
Masalahnya bukan kami tidak dapat ikan sebanyak kemarin, tetapi
kami tidak bisa pulang karena hujan tiba-tiba saja turun disertai angin
kencang.
Angin semakin berhembus kencang, ombak laut juga semakin tinggi,
suasana mulai gelap dan dingin. Cuaca sangat buruk di laut Jepang. Mustahil
bagi kami untuk pulang dalam cuaca seperti ini. Tapi mustahil juga bagi kami
untuk bertahan di tengah laut dalam cuaca yang seperti ini. Apalagi semua orang
sangat kelelahan. Begitu juga Ishida-sama yang lebih banyak mengatur
awak kapal dan memastikan untuk mendapat tangkapan ikan.
Pada akhirnya, Ishida-sama membiarkan kapal ini mengapung di tengah
cuaca yang buruk. Mata Ishida-sama sudah rabun. Tak mungkin dia
mengetahui arah pulang. Semua awak kapal masuk ke dalam kabin. Kukatakan sekali
lagi, kapal ini sangat besar. Besarnya hampir satu lapangan. Di kapal ini,
terdapat ruang istirahat bagi awak kapal yang kelelahan atau ingin tidur.
Semua awak kapal beristirahat. Termasuk diriku. Namun, aku harus
mencatat peristiwa ini di buku catatan. Sebelumnya, aku melihat Ishida-sama
yang nampak lesu di ruang kerjanya. Kutengok dia, dan dia sedang melamun. Entah
apa yang dipikirkannya, raut wajahnya terlihat cemas. Aku tak tahu apa isi hati
Ishida-sama, tetapi aku tahu jika ia benar-benar cemas.
Hari ketiga, cuaca sangat cerah. Tidak ada awan di langit. Semuanya
biru. Cuaca sangat cerah. Tidak panas, ataupun tidak berangin ataupun hujan seperti
kemarin. Anehnya, kami baru menyadari jika tidak ada angin sama sekali.
Ishida-sama berkali-kali menjilat telunjuknya, untuk memastikan apakah ada
angin. Sayangnya, tidak ada angin sama sekali. Bahkan, layar kapal tidak
tertiup sama sekali. Tetap diam di atas laut.
Untungnya kami mempunyai tenaga uap. Kami jalankan, karena layar
kapal tidak berguna. Setelah kapal berjalan, kami memutuskan untuk pulang ke
Yokohama. karena kapal perlu perbaikan. Kapal pun berlayar, kembali ke
pelabuhan Yokohama.
Sudah beberapa jam, seharusnya kami sudah sampi ke pelabuhan
Yokohama. Ishida-sama sering melihat jam saku miliknya. Seharusnya sudah
sampai. Tapi kenapa belum sampai? Bahkan dari kejauhan, hanya hamparan air yang
luas. Belum terlihat daratan sama sekali. Ishida-sama bertanya kepada
sang nahkoda, apakah ia salah arah. Tapi melihat tampat matahari terbit, sang
nahkoda yakin tak salah arah.
Kulihat wajah Ishida-sama
kembali cemas. Aku tak tahu alasan mengapa ia cemas. Namun aku tahu, jika kita
sedang tersesat di samudra yang begitu luasnya.
Hari demi hari berlalu, kami terus berlayar. Untuk makanan, kami
memanfaatkan ikan yang ada di lautan. Lebih tepatnya ikan-ikan itu dimakan
mentah, karena bahan-bahan dapur sudah habis. Aku juga begitu. Memakan secara
langsung ikan-ikan yang ada di hadapan tanpa dimasak sekalipun. Ishida-sama kembali cemas lagi. Kemungkinan
kita akan lama di sini.
Hari berlalu, kami terus melintas di samudra yang luas. Sebagian
awak kapal yang stress, mengakhiri hidupnya dengan meloncat ke laut dan
membiarkan dirinya tenggelam. Tak berapa lama, ada hiu besar yang memakan
mereka secara langsung. Mengoyak daging mereka serta mengunyah dengan kasar.
Awak kapal yang masih hidup, bergidik ngeri melihatnnya. Seketika air di
sekitar kapal berubah menjadi merah. Bekas darah awak kapal. Kulihat juga wajah
Ishida-sama. Ia terlihat mematung,
melihat sebagian awak kapal mengakhiri hidupnya dengan meloncat ke laut.
Aku rasa, aku paham apa yang ada di pikiran Ishida-sama. Kalau beberapa hari kedepan, ada
beberapa orang yang mati di antara kita.
Dan firasat itu memang benar. Ada sebagian orang yang mengakhiri
hidupnya dengan meloncat ke laut dan membiarkan dirinya menjadi santapan hiu
serta ada yang mengakhiri hidupnya dengan menusuk hatinya. Darah berceceran di
sekitar kapal. Aku menutup hidung. Suasana di kapal bagaikan neraka. Setiap
harinya, kami selalu menemukan mayat para awak kapal yang mati dengan tragis.
Juga gusiku yang mulai berdarah karena kekurangan zat besi dari sayuran.
Semuanya seperti neraka bagiku. Kacau balau. Yang paling aku takutkan adalah,
jika sebagian dari kami akan mempunyai jiwa kanibal. Memakan satu sama lain.
Pada hari ketiga-belas, ada secercah harapan di kapal kami. Kami
melihat sebuah pulau. Ishida-sama
mulai menunjukkan wajah senyumnya setelah sekian lama bersedih karena harus
berada dalam penderitaan.
Bagai seorang Christoper Columbus menemukan Benua Amerika, kami
kira pulau itu tak berpenghuni. Kami mendaratkan kapal kita ke pulau tersebut.
Hanya tiga belas orang yang masih tersisa. Termasuk aku, Ishida-sama dan sebagian awak kapal yang masih
hidup.
Jujur saja, semua awak kapal banyak yang tidak tahu tentang itu.
Kepala mereka serasa dipusingkan dengan orientasi sekarang. Mereka seperti
tidak mengenal mana utara dan mana selatan, mana barat dan mana timur. Bahkan
mereka tidak tahu berada di pulau yang entah berantah. Tidak diketahui juga,
pulau itu berada di mana dan milik kekuasaan siapa. Sekali lagi kulirik wajah
Ishida-sama yang menelan ludah, cemas
melihat sekelilingnya. Bias kuartikan jka sesuatu yang buruk akan segera
terjadi.
Akhirnya, Ishida-sama
memimpin kami, menulusuri pulau yang sangat asing. Kami juga berteriak meminta
tolong. Dan benar saja dugaanku. Tidak ada orang yang hidup di sana. Bahkan
kami merasa ada sesuatu yang aneh di pulau itu.
Ishida-sama memimpin para
rombongan. Dengan pedang yang dimilikinya, ia menebas semak belukar di hutan.
Mencoba mencari apakah ada perkampungan atau penduduk di sekitar pulau ini
untuk meminta bantuan. Dan semakin dalam kami masuk ke dalam, tidak ada
kehidupan di sana seperti hewan dan manusia. Yang ada hanyalah semak belukar
dan pepohonan yang tumbuh di sana yang tumbuh tak beraturan.
Ada seorang awak kapal yang berteriak keras. Kami menoleh ke
belakang. Ke arah awak kapal. Alangkah terkejutnya diriku. Aku terdiam. Tak
bisa apa-apa. Aku ingat itu. Tanganku sampai bergetar ketika menuliskan ini.
Seekor monster dengan tinggi sekitar 5-7 meter, dengan beberapa bulu yang cukup
lebat menutupi tubuhnya, jari-jari dengan jumlah yang banyak serta kuku
panjang. Monster itu mendengus. Memegang awak kapal yang berteriak tadi.
Aku mundur beberapa langkah. Suara dengusan itu semakin kuat.
Kudengar Ishida-sama semakin menampakkan wajah yang sangat cemas.
Kulihat para awak kapal lainnya menurunkan pedangnya. Bukannya menolong awak
kapal yang tengah berada pada titik taka man, mereka mundur. Seperti diriku.
Salah satu awak kapal mengangkat tangannya. Berseru kencang penuh ketakutan,
“Semuanya, lari!”
Aku refleks sambil membawa buku catatan dan penaku. Tetap menulis
saat ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi di belakangku, monster itu bergerak.
Mengejar kami. Meskipun ia berjalan lambat, tetapi jangkahnya sangat lebar.
Bisa dibilang, ia akan mengejar kita. Kami terus berlari. Menuju lautan.
Tepatnya kapal kita.
Setelah berlari dengan penuh kengerian, kami segera naik ke kapal.
Untungnya, Ishida-sama—meskipun ia sudah tua, tetapi ia pelari yang
tangguh. Kulihat sekali lagi wajah Ishida-sama yang penuh peluh. Boleh
jadi, ia merasa bersalah karena memilih mengorbankan satu anak buahnya yang
terbawa oleh monster dan memilih berlari dengan para awak lainnya. Entah apa
yang terjadi dengan awak kapal tersebut. Mungkin saja, ia sudah termakan atau
yang lebih buruk lagi pastinya.
Sisa kami sekarang berkurng satu orang. Menjadi 12 orang. Entah apa
yang kita lakukan, kami juga tak tahu kita mau pergi ke mana. Kami hanya
pasrah. Gusi kami mulai berdarah-darah, akibat kurang zat besi dari sayuran dan
terlalu banyak memakan ikan mentah. Juga kulit kita yang mengeluarkan aroma tak
sedap hingga kesehatan yang mulai berubah. Kami semua tergeletak lemas.
Berharap, kami tak menjadi kanibal dalam memuaskan nafsu lapar.
Pada itu juga, kami hanya bisa pasrah. Membiarkan angin dari darat
meniup kapal ini entah ke mana. Kami juga siap jika mati kelaparan di sini.
Pada hari ke-empat belas, angin telah membawa kita berlalu.
Menjauhi pulau yang mengerikan itu. Tenaga kami masih tersisa sedikit. Kami
hanya berharap hanya pulang dengan selamat. Ishida-sama juga semakin
payah. Aku baru tahu jika Ishida-sama bisa selemas ini. Kapitein yang
terkenal dengan menaklukan ombak dan lautan, kini terkulai lemas dengan
tubuhnya yang mulai mengurus.
Aku melihat teropong. Ada bagian berwarna hitam di seberang sana.
Pikiranku langsung cepat menyimpulkan jika itu adalah pulau. Ya, kita menemukan
pulau lagi.
Ishida-sama, dengan segala kekuatan yang tersisa,
memberitahukan seluruh awak kapal untuk segera melebarkan layar. Menuju pulau
itu secepat mungkin. Dengan penglihatan yang agak buram, Ishida-sama
menyipitkan matanya. Mencoba untuk melihat secara jelas. Ishida-sama
memajang wajah tak percaya. Ia berseru keras kepada seluruh awak kapal.
“Yokohama! Kita telah sampai ke Yokohama!”
Para awak kapal kegirangan. Mempersiapkan seluruhnya untuk tiba di
kota tersebut. Ada yang berkemas karena rindu kepada keluarga di rumah. Ishida-sama
sedang menulis surat. Sebuah surat terlihat sangat rahasia. Setelah
menulisnya, ia menggulung kertas itu dengan pita warna hitam.
Tiba-tiba saja, Ishida-sama berseru kencang, “Ada
pengkhianat masuk di kapal ini!”
Semuana saling toleh. Aku tak tahu apa maksud dari Ishida-sama.
“Jika tidak ada pengkhianat di sini, kita tidak akan
terombang-ambing di lautan selama dua minggu. Itu sudah hokum karma bagi
seorang pengkhianat yang masuk di kapal Ichiyo ini,” Kata Ishida-sama
dengan yakin.
Ishida-sama meneropong pulau itu dari kejauhan. Tampak
jejeran orang seperti pasukan sudah ada di tepi pantai. Ishida-sama
mengusap wajahnya pelan. “Astaga, para kepolisian militer telah berjejeran di
sana.”
Beberapa menit kemudian, kapal besar Ichiyo berhasil mendarat di
dermaga kapal. Kulihat ekspresi wajah para awak kapal tidak menunjukkan wajah
tak senang sama sekali. Padahal sebelumnya mereka sangat senang karena dapat
kembali. Juga saat kita mendarat di dermaga kapal, barisan kepolisian militer
berjejeran di tepi pantai. Sang pemimpin kepolisian militer Yokohama bagian
timur.
Baru kali ini kulihat wajah Ishida-sama tak kalah serius
dengan wajah para polisi militer tersebut. Ishida-sama membungkuk di
depan pimpinan polisi. Memberi hormat. “Mengapa kalian berjejer di sini?”
“Justru aku mau bertanya ke mana saja kalian pergi selama dua
minggu?!” pimpinan polisi tersebut membentak.
Ishida-sama menyerahkan gulungan kertas itu kepada pemimpin polisi
militer. Dibacanya dengan seksama. Seketika, urat-urat dahinya menonjol.
Matanya melotot seketika. “Kau kira kami pelakunya?”
“Lalu siapa lagi? Kau tak tahu ritual dan kebiasaan kami dalam
menangkap ikan di kapal besar Ichiyo. Bagaimana kami mendapatkan ikan yang
banyak, menjual dengan keuntungan besar, cuaca yang cerah. Itu semua adalah
takdir yang pasti.
“Hanya saja, kepastian itu akan berubah, jika ada salah satu
pengkhianat masuk ke kapal kami. Membawa niat busuk. Dan selama dua minggu
perjalan, kami mendapatkan banyak kejadian buruk. Sudah pasti jika ada
pengkhianat yang membawa rencana yang sangat busuk ada di kapal ini. Anda pasti
tahu, kan?”
Pemimpin kepolisian militer itu mengerang. “Apa maksudmu?! Kau
pikir kami menyelipkan pengkhianat di kapalmu?”
“Tentu saja. Kepolisian militer akhir-akhir ini membuat suatu hal
yang seharusnya tak boleh dilakukan oleh petinggi seperti kalian. Memboikot
apapun. Kapal-kapal kecil kalian rampas hanya untuk memperbesar kekuasaan
kalian. Mendapatkan uang yang banyak untuk kota padahal Yokohama adalah kota
pelabuhan terbesar. Dan yang paling tidak aku sukai adalah kalian mengenakan
pajak yang terlampau besar bagi kapal penangkap ikan sebesar Ichiyo yang selalu
menyumbang penghidupan bagi Yokohama. Sedangkan kalian adalah perusak!”
Sebuah letusan terdengar di langit. Apa yang dikatakan Ishida-sama
benar-benar melampui batas. Sedangkan tanganku seharusnya tak menulis bagian
tersebut.
Ishida-sama mengangkat tangannya. Seketika para awak kapal yang
masih tersisa mengangkat pedangnya dan pisau. “Kami para nelayan, penakluk
lautan tak akan menyerah. Kami rela mati demi kebaikan. Pajak yang kalian tarik
tidak untuk pemerintah, melainkan untuk meminum sake dan memuaskan kesenangan
kalian!”
Seketika juga, salah satu polisi militer menembak salah satu awak
kapal. Tergeletak lemas dengan kening yang berdarah. Tanpa berpikir panjang,
Ishida-sama maju sambil mengangkat pedangnya. Bersama dengan awak kapal
yang lain, mereka menumpas semuanya. Pertempuran antara polisi militer dan para
nelayan terjadi.
Aku hanya terdiam. Muncul pikiran di otakku. Sebenarnya siapakah
diriku? Kenapa aku hanya diam sendiri. Tiba-tiba aku tak berani maju. Siapakah
diriku? Aku bukanlah nelayan. Pengecut diriku. Aku takut jika Ishida-sama mencurigaiku.
“Seo! Kenapa kau tak maju? Apakah kau bukan salah satu dari kami?”
Kata-kata itu membuatku takut.
“Seo! Majulah! Kau tak boleh berdiam sambil memegang buku kecil
itu.”
Sebilah pisau dilemparkan tepat mendarat di hadapanku. “Cepat ambil
itu! Bunuh semua polisi militer di depanmu?”
Aku? Membunuh? Tidak. Tidak mungkin. Aku tak bisa melakukanya. Karena
aku adalah seorang penyusup di kapal ini.
Apapun yang aku lakukan, ini adalah perintah dari kapten Miyoshi. Aku
menjadi penyusup untuk mengetahui semua kelemahan dari kapal ini. Ini rencana busuk.
Hanya dengan iming-imingan uang, aku pun tergoyah dan menyetujuinya. Aku tak tahu
jika kapal Ichiyo memiliki sebuah kutukan akan tersesat jika ada seorang penyusup
yang masuk. Dan aku memang sudah terjebak.
Aku kira, selama aku menulis, aku akan lebih banyak menemukan rahasia
dan info penting. Tapi, hanyalah berputar-putar di atas lautan dengan banyak putus
asa. Hanya ada satu dalam pikiran. Aku mengambil pisau itu dan segera menyelesaikan
tugas terakhirku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar