SUATU hari, gadis remaja berkacamata yang masih duduk di sekolah
menengah pertama bernama Aya menyalami ayahnya. Ayahnya selalu mengantarkan Aya
ke sekolah. Selalu. Setiap kali ia turun dari kendaraan sang ayah, Aya
menyalami ayahnya. Rutinitas itu selalu ia lakukan setiap pagi saat berangkat
sekolah.
Sang ayah-lah yang merawat dan membesarkan Aya. Ibunya telah
meninggal karena penyakit kronis. Aya yang saat itu masih berumur lima tahun,
menangis sekencang-kencangnya. Hanya ayah yang satu-satunya ia punya. Sang ayah
pun juga menyanyangi anaknya. Berharap, ia bisa berumur panjang dan menyaksikan
anaknya bahagia.
Sang ayah, sudah berumur sekitar 45 tahun. Ia mengajar sebagai guru
di sekolah lain. Seperti orang tua pada umumnya, ia selalu memberi nasihat
kepada anaknya. Bagaikan seorang guru yang memberikan pelajaran kepada
muridnya. Sang ayah juga masih kuat mengantar anaknya ke sekolah dengan motor
yang asapnya sudah memutih dan menyumbang polusi udara di kota. Ia tetap tegar.
Hanya itu yang ia bisa lakukan selagi raga masih kuat.
Aya adalah gadis biasa. Dari keluarga biasa. Ia juga mempunyai
wajah yang polos, namun cantik. Disaat semua anak gadis meminta bedak kepada
ibunya, Aya hanya bisa melihat. Ia tidak punya niatan untuk meminta bedak
ataupun alat untuk mempercantik penampilan seperti remaja sekarang. Ia juga
tidak meminta ayahnya untuk membeli shampoo yang mahal agar rambutnya bisa
lembut dan selurus teman-teman yang lain.
Aya cukup berprestasi di sekolah. Dia memang pandai. Teman-temannya
selalu meminta Aya untuk membantu memudahkan pelajaran. Bertanya apabila ada
bagian yang belum paham.
Masalahnya sekarang, Aya sudah kelas 3. Sebentar lagi ia akan
menempuh ujian nasional. Ujian di mana semua siswa kelas 3 baik SD, SMP,
ataupun SMA dijadikan bahan percobaannya menghadapi ujian tersebut. Menakutkan.
Banyak orang yang bilang seperti itu. Tapi itu hanyalah dulu. Dulu, kelulusan
tergantung pada nilai ujian nasional. Masalahnya, banyak hal yang sangat
menakutkan saat ujian. Mulai dari jumlah soal yang berbeda, lembar ujian
jawaban yang rusak, bahkan yang lebih menyeramkan lagi, pada ujian nasional
berbasis komputer, koneksi internet yang lemot dapat menjadi kendala. Sekarang,
kelulusan tergantung pada sekolah masing-masing. Pihak sekolah berhak
meluluskan siswanya. Tapi tetap saja, nilai ujian nasional masih dianggap
penting untuk mendaftar sekolah.
Sebenarnya, bukan hal itu yang ditakutkan oleh Aya. Bukan ia takut
menghadapi ujian nasional mendatang, atau takut terjadi kendala saat ujian
berlangsung. Yang ia takutkan hanyalah ia takut mencontek.
Seperti yang kita ketahui, setiap sekolah memiliki rahasia. Untuk
membuat para muridnya memiliki nilai yang bagus, para siswa diharuskan untu
berbuat “Curang” agar nilai ujian nasional baik. Biasanya, setiap sekolah akan
menjaga rahasia ini baik-baik dan jangan sampai bocor ke sekolah lain. Sebelum
ujian, biasanya para guru akan memanggil ketua ruangan untuk berkumpul dan
menjelaskan cara “Curang” yang biasanya dilakukan saat ujian. Entah itu memberi
kunci jawaban atau bertanya jawaban dengan teman.
Semua sekolah pasti ada yang melegalkan hal yang seharusnya tidak
dilegalkan. Seperti Negara ini, tidak lepas dari perbuatan curang. Apalagi
mereka adalah bibit-bibit muda yang akan mengemban bangsa ini. Masalahnya, guru
yang biasanya memberikan contoh yang baik, malah melegalkannya.
Jadi, inilah yang Aya takutkan. Dia mungkin adalah satu dari sekian
siswa di negeri ini yang masih mengemban sistem jujur. Cukup berat memang untuk
mengemban sifat jujur di masa yang tergolong “Gila” ini.
Aya memang gadis yang polos. Ia selalu gemetar ketika melihat
temannya yang melihat berbuat curang apalagi jika ia dituntut untuk berbuat
curang, ia sama sekali tidak bisa. Ia akan menghindar dan tidak mau
mendengarkan.
Masalahnya, sekolah Aya adalah salah satu dari sekian sekolah yang
akan menerapkan cara “Curang” saat ujian nanti. Aya sudah pernah mendengarnya
dari kakak kelasnya yang sudah lulus, jika guru akan memberikan masing-masing
kunci jawaban. Namun, jangan sampai ketahuan oleh pengawas ataupun membocorkan
rahasia ini kepada sekolah lain.
Aya hanya diam. Beberapa hari, ia dipikirkan oleh soal itu. Rasa
gemetar jika ia harus dituntut untuk melakukan hal itu. Apakah ia harus
melakukan kejahatan? Baginya, hal itu adalah kejahatan. Apakah ia harus
mengikuti peraturan sekolahnya, atau tetap teguh pendirian?
Aya teringat akan nasihat ayahnya, yang selalu mengatakan untuk
berlaku jujur dan tidak pernah berbuat curang. Ayahnya selalu mengatakan hal
itu bahkan selalu mendongeng tentang kejujuran. Entah ayahnya melakukan
kejujuran atau tidak, namanya seorang ayah, selalu mencontohkan perilaku yang
baik pada anaknya.
Saat itu, ujian sudah semakin dekat. Hati Aya masih gemetar.
Bingung untuk memilih. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolah dengan
jaminan bahwa nilainya akan bagus, atauia harus mematuhi nasihat sang ayah
sewaktu kecil. Ia menggenggam tangannya erat. Ia tidak berani untuk
menceritakan kebimbangan hatinya kepada ayahnya. Terlalu takut untuk dicap
sebagai anak durhaka.
Maka, dengan hati yang masih bimbang dan tangan gemetar, ia
membulatkan tekad untuk menceritakan sebuah rahasia kecil yang seharusnya tidak
diceritakan kepada ayahnya.
Aya membuka pintu pelan. Nampak ayahnya duduk bersandar sambil
memejamkan mata. Mendengar pintu dibuka, mata sang ayah terbuka. Ia melihat
anak gadisnya berdiri dengan wajah yang agak muram. Sang ayah bertanya, “Mengapa
wajahmu terlihat muram, nak?”
Aya mulai mendekat perlahan. Duduk dengan pelan agar sejajar dengan
ayahnya. Ia tiba-tiba menunduk dalam-dalam. Kepalanya menyentuh lantai marmer. Ia
terbatuk pelan. Lebih tepatnya, air matanya menetes. “Ayah, maafkan aku.”
Sang ayah kembali bertanya. “Apa maksudmu, nak? Aku benar-benar
tidak mengerti. Katakan saja padaku. Aku tidak akan marah.”
Aya mengangkat kepalanya. Menatap wajah ayahnya. Ia masih
berlinangan air mata. “Ayah,” katanya pelan, “maafkan aku karena besok aku akan
berbuat curang.”
Ruangan lenggang seketika. Hanya menyisakan helaan nafas dari ayah
dan anaknya.
Sang ayah mengusap rambut anaknya pelan. Ia tersenyum simpul. “Aku
sudah tahu jika kau akan mengatakan hal itu. Sebagai guru, aku sudah
mengetahuinya sejak dulu trik semacam itu.”
Gadis itu mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya.
“Aku juga sudah menjadi pengawas ruangan di berbagai sekolah. Yang kutemui
juga sama. Sebuah kecurangan. Sama seperti sekolahmu. Mungkin, itu adalah sudah
menjadi rahasia umum warga negara ini yang lebih mementingkan nilai daripada
kejujuran. Mereka terlalu takut jika anak muridnya tidak mempunyai masa depan. Tapi
bukanlah nilai yang tinggi yang membuat
masa depan baik.”
Sang ayah memegangi pipi anaknya. Mengusap pelan bulir-bulir air
mata yang masih jatuh. Lantas tersenyum dengan wajah yang menyenangkan. “Jujurlah,
nak. Aku ingin anak ayah menjadi orang yang jujur. Jangan mudah terpengaruh
oleh orang di sekitarmu. Jangan takut nilaimu akan turun karena kau tidak
mengindahkan peraturan sekolah. Ketahuilah, nak. Kejujuran akan berbuah baik. Karena
kejujuran selalu mengikutimu kemanapun kau berada.”
Aya sedikit tersenyum memegang tangan ayahnya yang sudah mulai tua.
“Terima kasih sudah meyakinkanku.”
Sang ayah tersenyum simpul. “Sekarang, kau harus belajar. Ujian sudah
dimulai besok. Persiapkan dirimu dan jangan lupa berdoa. Dan ingatlah pesan
ayah tadi. Kejujuran.”
Aya mulai sedikit lega akibat semangat ayahnya. Malam harinya,
belajar dan berdoa supaya diberi kemudahan. Menyiapkan semua yang dibutuhkan
saat ujian termasuk juga nasihat ayahnya.
Apa yang dikatakan ayahnya, membuat Aya benar-benar lega. Saat ujian,
ia tidak mempedulikan keadaan sekitar dan terus mengerjakan soal. Ia tetap
fokus meskipun banyak tawaran teman-temannya di sana-sini. Bahkan, ia menolak
menerima secarik kertas kecilyang berisi sebuah angka dan huruf. Ia tetap
tenang. Nasihat ayahnya selalu ia gunakan. Apapun hal itu, ia masih
mengingatnya. Mengingat wajah bijak ayahnya, ia tak berani membohonginya. Hanyalah
ayah-lah yang ia punya saat ini.
Selepas empat hari ujian, Aya benar-benar menyerahkan dirinya. Ia tetap
berdoa. Ayahnya tak berhenti memberikan nasihat kepadanya ataupun sekedar
bercerita setiap sore di bawah pohon yang rindang. Sesekali ia menceritakan
kepada ayahnya bahwa ia menaati nasihat ayahnya.
Sang ayah tersenyum seperti biasanya. Mengusap rambut Aya dengan
lembut. “Itu baru anakku.”
Setelah beberapa minggu menunggu, tibalah saat yang mendebarkan
bagi seluruh siswa SMP. Begitu juga dengan Aya. Sebelumnya, ayahnya meyakinkan
kepadanya untuk selalu menerima apapun yang kita dapat. Sang ayah mengatakan
kepada Aya untuk menerima nilainya jika rendah dan tetap bersyukur jika
menerima nilai yang tinggi.
Di sekolah, Aya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia sudah
berpikir jika ujian nasional tahun ini lebih sulit dari ujian nasional
sebelumnya. Mengingat, ada soal yang tidak sesuai kisi-kisi malah keluar atau
soal yang harusnya ada di kisi-kisi tetapi tidak keluar dalam soal ujian
nasional. Mengingat ia tidak menerima kunci jawaban yang sudah disebarkan dan
memilih diam.
Aya kembali meyakinkan hatinya. Tidak boleh terpengaruh oleh
pikiran-pikiran. Kejujuran dan menerima. Itulah hal yang diajarkan dari
ayahnya.
Kertas-kertas berisi nilai ujian nasional mulai dipasang di papan
pengumuman sekolah. Seluruh murid berkumpul menjadi satu di depan papan
pengumuman. Aya berdesak-desakkan di antara murid-murid yang ingin melihat
nilai. Sebenarnya Aya belum melihat nilainya, tapi melihat wajah teman-temannya
yang sudah melihatnya, terlihat murung. Aya mulai berpikir, jika nilainya jauh
lebih rendah dari teman-temannya.
Saat murid sudah mulai sedikit menyingkir, Aya menerobos di antara
murid-murid. Melihat papan pengumuman satu-satu. Mata Aya tiba-tiba melebar. Ia
berdiri mematung. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mendapatkan
nilai tinggi di antara teman-temannya bahkan menjadi nilai tertinggi di
sekolahnya.
Aya mendapatkan danem 37,5. Termasuk danem yang tinggi. Ia merasa
senang sekali. Ia tidak menyangka ia akan mendapatkan nilai yang sangat bagus. Ia
dulunya banyak berpikir buruk jika ia akan mendapatkan nilai yang jelek. Ia benar-benar
merasa senang.
Aya masih mengingat pesan ayahnya. “Menerima dan bersyukur.” Ia
sangat bersyukur dan tetap tidak sombong. Ia sekarang percaya dengan nasihat ayahnya.
Tentang kejujuran. Ia akan tetap melakukan kejujuran di mana pun. Karena kejujuran
selalu berbuah baik. Kejujuran tidak akan mengecewakanmu dan selalu mengikutimu
di mana pun kau berada.
Aya tersenyum bangga. “Terima kasih, ayah. Nasihatmu sungguh
berarti buatku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar