Senin, 20 Juni 2016

Pesan Sang Ayah



SUATU hari, gadis remaja berkacamata yang masih duduk di sekolah menengah pertama bernama Aya menyalami ayahnya. Ayahnya selalu mengantarkan Aya ke sekolah. Selalu. Setiap kali ia turun dari kendaraan sang ayah, Aya menyalami ayahnya. Rutinitas itu selalu ia lakukan setiap pagi saat berangkat sekolah. 

Sang ayah-lah yang merawat dan membesarkan Aya. Ibunya telah meninggal karena penyakit kronis. Aya yang saat itu masih berumur lima tahun, menangis sekencang-kencangnya. Hanya ayah yang satu-satunya ia punya. Sang ayah pun juga menyanyangi anaknya. Berharap, ia bisa berumur panjang dan menyaksikan anaknya bahagia.

Sang ayah, sudah berumur sekitar 45 tahun. Ia mengajar sebagai guru di sekolah lain. Seperti orang tua pada umumnya, ia selalu memberi nasihat kepada anaknya. Bagaikan seorang guru yang memberikan pelajaran kepada muridnya. Sang ayah juga masih kuat mengantar anaknya ke sekolah dengan motor yang asapnya sudah memutih dan menyumbang polusi udara di kota. Ia tetap tegar. Hanya itu yang ia bisa lakukan selagi raga masih kuat.

Aya adalah gadis biasa. Dari keluarga biasa. Ia juga mempunyai wajah yang polos, namun cantik. Disaat semua anak gadis meminta bedak kepada ibunya, Aya hanya bisa melihat. Ia tidak punya niatan untuk meminta bedak ataupun alat untuk mempercantik penampilan seperti remaja sekarang. Ia juga tidak meminta ayahnya untuk membeli shampoo yang mahal agar rambutnya bisa lembut dan selurus teman-teman yang lain.
Aya cukup berprestasi di sekolah. Dia memang pandai. Teman-temannya selalu meminta Aya untuk membantu memudahkan pelajaran. Bertanya apabila ada bagian yang belum paham.

Masalahnya sekarang, Aya sudah kelas 3. Sebentar lagi ia akan menempuh ujian nasional. Ujian di mana semua siswa kelas 3 baik SD, SMP, ataupun SMA dijadikan bahan percobaannya menghadapi ujian tersebut. Menakutkan. Banyak orang yang bilang seperti itu. Tapi itu hanyalah dulu. Dulu, kelulusan tergantung pada nilai ujian nasional. Masalahnya, banyak hal yang sangat menakutkan saat ujian. Mulai dari jumlah soal yang berbeda, lembar ujian jawaban yang rusak, bahkan yang lebih menyeramkan lagi, pada ujian nasional berbasis komputer, koneksi internet yang lemot dapat menjadi kendala. Sekarang, kelulusan tergantung pada sekolah masing-masing. Pihak sekolah berhak meluluskan siswanya. Tapi tetap saja, nilai ujian nasional masih dianggap penting untuk mendaftar sekolah.

Sebenarnya, bukan hal itu yang ditakutkan oleh Aya. Bukan ia takut menghadapi ujian nasional mendatang, atau takut terjadi kendala saat ujian berlangsung. Yang ia takutkan hanyalah ia takut mencontek.

Seperti yang kita ketahui, setiap sekolah memiliki rahasia. Untuk membuat para muridnya memiliki nilai yang bagus, para siswa diharuskan untu berbuat “Curang” agar nilai ujian nasional baik. Biasanya, setiap sekolah akan menjaga rahasia ini baik-baik dan jangan sampai bocor ke sekolah lain. Sebelum ujian, biasanya para guru akan memanggil ketua ruangan untuk berkumpul dan menjelaskan cara “Curang” yang biasanya dilakukan saat ujian. Entah itu memberi kunci jawaban atau bertanya jawaban dengan teman.

Semua sekolah pasti ada yang melegalkan hal yang seharusnya tidak dilegalkan. Seperti Negara ini, tidak lepas dari perbuatan curang. Apalagi mereka adalah bibit-bibit muda yang akan mengemban bangsa ini. Masalahnya, guru yang biasanya memberikan contoh yang baik, malah melegalkannya.

Jadi, inilah yang Aya takutkan. Dia mungkin adalah satu dari sekian siswa di negeri ini yang masih mengemban sistem jujur. Cukup berat memang untuk mengemban sifat jujur di masa yang tergolong “Gila” ini.

Aya memang gadis yang polos. Ia selalu gemetar ketika melihat temannya yang melihat berbuat curang apalagi jika ia dituntut untuk berbuat curang, ia sama sekali tidak bisa. Ia akan menghindar dan tidak mau mendengarkan.

Masalahnya, sekolah Aya adalah salah satu dari sekian sekolah yang akan menerapkan cara “Curang” saat ujian nanti. Aya sudah pernah mendengarnya dari kakak kelasnya yang sudah lulus, jika guru akan memberikan masing-masing kunci jawaban. Namun, jangan sampai ketahuan oleh pengawas ataupun membocorkan rahasia ini kepada sekolah lain.

Aya hanya diam. Beberapa hari, ia dipikirkan oleh soal itu. Rasa gemetar jika ia harus dituntut untuk melakukan hal itu. Apakah ia harus melakukan kejahatan? Baginya, hal itu adalah kejahatan. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolahnya, atau tetap teguh pendirian?

Aya teringat akan nasihat ayahnya, yang selalu mengatakan untuk berlaku jujur dan tidak pernah berbuat curang. Ayahnya selalu mengatakan hal itu bahkan selalu mendongeng tentang kejujuran. Entah ayahnya melakukan kejujuran atau tidak, namanya seorang ayah, selalu mencontohkan perilaku yang baik pada anaknya.

Saat itu, ujian sudah semakin dekat. Hati Aya masih gemetar. Bingung untuk memilih. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolah dengan jaminan bahwa nilainya akan bagus, atauia harus mematuhi nasihat sang ayah sewaktu kecil. Ia menggenggam tangannya erat. Ia tidak berani untuk menceritakan kebimbangan hatinya kepada ayahnya. Terlalu takut untuk dicap sebagai anak durhaka.

Maka, dengan hati yang masih bimbang dan tangan gemetar, ia membulatkan tekad untuk menceritakan sebuah rahasia kecil yang seharusnya tidak diceritakan kepada ayahnya.

Aya membuka pintu pelan. Nampak ayahnya duduk bersandar sambil memejamkan mata. Mendengar pintu dibuka, mata sang ayah terbuka. Ia melihat anak gadisnya berdiri dengan wajah yang agak muram. Sang ayah bertanya, “Mengapa wajahmu terlihat muram, nak?”

Aya mulai mendekat perlahan. Duduk dengan pelan agar sejajar dengan ayahnya. Ia tiba-tiba menunduk dalam-dalam. Kepalanya menyentuh lantai marmer. Ia terbatuk pelan. Lebih tepatnya, air matanya menetes. “Ayah, maafkan aku.”

Sang ayah kembali bertanya. “Apa maksudmu, nak? Aku benar-benar tidak mengerti. Katakan saja padaku. Aku tidak akan marah.”

Aya mengangkat kepalanya. Menatap wajah ayahnya. Ia masih berlinangan air mata. “Ayah,” katanya pelan, “maafkan aku karena besok aku akan berbuat curang.”

Ruangan lenggang seketika. Hanya menyisakan helaan nafas dari ayah dan anaknya.

Sang ayah mengusap rambut anaknya pelan. Ia tersenyum simpul. “Aku sudah tahu jika kau akan mengatakan hal itu. Sebagai guru, aku sudah mengetahuinya sejak dulu trik semacam itu.”

Gadis itu mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya.

“Aku juga sudah menjadi pengawas ruangan di berbagai sekolah. Yang kutemui juga sama. Sebuah kecurangan. Sama seperti sekolahmu. Mungkin, itu adalah sudah menjadi rahasia umum warga negara ini yang lebih mementingkan nilai daripada kejujuran. Mereka terlalu takut jika anak muridnya tidak mempunyai masa depan. Tapi bukanlah  nilai yang tinggi yang membuat masa depan baik.”

Sang ayah memegangi pipi anaknya. Mengusap pelan bulir-bulir air mata yang masih jatuh. Lantas tersenyum dengan wajah yang menyenangkan. “Jujurlah, nak. Aku ingin anak ayah menjadi orang yang jujur. Jangan mudah terpengaruh oleh orang di sekitarmu. Jangan takut nilaimu akan turun karena kau tidak mengindahkan peraturan sekolah. Ketahuilah, nak. Kejujuran akan berbuah baik. Karena kejujuran selalu mengikutimu kemanapun kau berada.”

Aya sedikit tersenyum memegang tangan ayahnya yang sudah mulai tua. “Terima kasih sudah meyakinkanku.”

Sang ayah tersenyum simpul. “Sekarang, kau harus belajar. Ujian sudah dimulai besok. Persiapkan dirimu dan jangan lupa berdoa. Dan ingatlah pesan ayah tadi. Kejujuran.”

Aya mulai sedikit lega akibat semangat ayahnya. Malam harinya, belajar dan berdoa supaya diberi kemudahan. Menyiapkan semua yang dibutuhkan saat ujian termasuk juga nasihat ayahnya.

Apa yang dikatakan ayahnya, membuat Aya benar-benar lega. Saat ujian, ia tidak mempedulikan keadaan sekitar dan terus mengerjakan soal. Ia tetap fokus meskipun banyak tawaran teman-temannya di sana-sini. Bahkan, ia menolak menerima secarik kertas kecilyang berisi sebuah angka dan huruf. Ia tetap tenang. Nasihat ayahnya selalu ia gunakan. Apapun hal itu, ia masih mengingatnya. Mengingat wajah bijak ayahnya, ia tak berani membohonginya. Hanyalah ayah-lah yang ia punya saat ini.

Selepas empat hari ujian, Aya benar-benar menyerahkan dirinya. Ia tetap berdoa. Ayahnya tak berhenti memberikan nasihat kepadanya ataupun sekedar bercerita setiap sore di bawah pohon yang rindang. Sesekali ia menceritakan kepada ayahnya bahwa ia menaati nasihat ayahnya.

Sang ayah tersenyum seperti biasanya. Mengusap rambut Aya dengan lembut. “Itu baru anakku.”

Setelah beberapa minggu menunggu, tibalah saat yang mendebarkan bagi seluruh siswa SMP. Begitu juga dengan Aya. Sebelumnya, ayahnya meyakinkan kepadanya untuk selalu menerima apapun yang kita dapat. Sang ayah mengatakan kepada Aya untuk menerima nilainya jika rendah dan tetap bersyukur jika menerima nilai yang tinggi.

Di sekolah, Aya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia sudah berpikir jika ujian nasional tahun ini lebih sulit dari ujian nasional sebelumnya. Mengingat, ada soal yang tidak sesuai kisi-kisi malah keluar atau soal yang harusnya ada di kisi-kisi tetapi tidak keluar dalam soal ujian nasional. Mengingat ia tidak menerima kunci jawaban yang sudah disebarkan dan memilih diam.

Aya kembali meyakinkan hatinya. Tidak boleh terpengaruh oleh pikiran-pikiran. Kejujuran dan menerima. Itulah hal yang diajarkan dari ayahnya.

Kertas-kertas berisi nilai ujian nasional mulai dipasang di papan pengumuman sekolah. Seluruh murid berkumpul menjadi satu di depan papan pengumuman. Aya berdesak-desakkan di antara murid-murid yang ingin melihat nilai. Sebenarnya Aya belum melihat nilainya, tapi melihat wajah teman-temannya yang sudah melihatnya, terlihat murung. Aya mulai berpikir, jika nilainya jauh lebih rendah dari teman-temannya.

Saat murid sudah mulai sedikit menyingkir, Aya menerobos di antara murid-murid. Melihat papan pengumuman satu-satu. Mata Aya tiba-tiba melebar. Ia berdiri mematung. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mendapatkan nilai tinggi di antara teman-temannya bahkan menjadi nilai tertinggi di sekolahnya.

Aya mendapatkan danem 37,5. Termasuk danem yang tinggi. Ia merasa senang sekali. Ia tidak menyangka ia akan mendapatkan nilai yang sangat bagus. Ia dulunya banyak berpikir buruk jika ia akan mendapatkan nilai yang jelek. Ia benar-benar merasa senang.

Aya masih mengingat pesan ayahnya. “Menerima dan bersyukur.” Ia sangat bersyukur dan tetap tidak sombong. Ia sekarang percaya dengan nasihat ayahnya. Tentang kejujuran. Ia akan tetap melakukan kejujuran di mana pun. Karena kejujuran selalu berbuah baik. Kejujuran tidak akan mengecewakanmu dan selalu mengikutimu di mana pun kau berada.

Aya tersenyum bangga. “Terima kasih, ayah. Nasihatmu sungguh berarti buatku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar