Kamis, 12 Mei 2016

JANGAN BILANG KARMA KARENA HUKUM KARMA MASIH BERLAKU



Namaku Karang, 21 tahun. Sebagai seorang mahasiswa, aku selalu disibukkan dengan sebuah skripsi. Aku juga seorang yang pintar dan banyak gadis di universitas menyukaiku karena aku adalah seorang laki-laki yang sempurna. 

Bagaimana tidak? Aku punya segalanya. Aku punya wajah yang tampan hingga setiap laki-laki yang melihat. Aku punya uang yang banyak hingga setiap wanita menginginkan hartaku. Aku punya otak yang cerdas hingga semua mahasiswa ingin seperti diriku.

Aku rasa aku kehidupanku sangat baik. Aku bisa memenuhi apapun tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Aku juga sangat populer di  universitasku. Tak juga, banyak agen majalah menarikku untuk menjadi model iklan majalah fashion bulanan. Ah, hidupku benar-benar indah.

Hanya saja, aku tak percaya kalau hukum karma itu benar-benar ada.

Bagaimana tidak? Di abad 21, tahun yang dipenuhi teknologi canggih dan manusia dengan akal yang luat biasa masih mempercayai hukum karma? Bodoh! Itu sama seperti ajaran nenek moyang yang sangat percaya hukum karma. Mereka selalu berkoar-koar, "Hukum karma masih berlaku." Aku rasa kalimat itu masih sering terdengar pada masa sekarang.

Soal hukum karma, aku tak percaya jika karma masih berlaku. Aku punya segalanya! Aku memiliki kasta golongan atas. Jadi, hukum karma kubuang jauh-jauh dari kamus besarku. Kuganti dengan "Hukum Karang." Hahaha....

Kali ini, seperti biasa aku kuliah. Aku mengendarai mobil keluaran terbaru yang membuat siapapun terkagum-kagum. Aku berhenti di lampu merah. Seorang nenek tua melintas tepat di zebracross. Nenek tua itu memiliki badan yang bungkuk dan baju yang compang-camping. Ia menyebrang sangat lambat. Membuatku tidak sabaran untuk menabraknya.

Kubunyikan klakson berkali-kali. Nenek tua itu tidak menghiraukannya. Kakinya bergetar setiap ia melangkah. Karena tidak sabar, aku membuka jendela mobil, mengatai nenek tua itu.

"Hei, nek! Bisakah kau berjalan lebih cepat?" Kataku dengan ketus.

Nenek itu tetap saja berjalan lambat. Ia sama sekali tidak merespon perkataanku sama sekali. Bahkan menolehpun tidak.

Aku semakin geram. Aku memainkan klakson mobil keras. Mumpung tidak banyak kendaraan yang berhenti di lampu merah saat itu. Budi yang mengendarai vespa bututnya menoleh ke arahku.

"Hei, karang! Bisakah kau tidak memarahi nenek itu? Dia sudah tua. Ingat! Hukum karma masih berlaku."

Argh! Dia mengatakan hukum karma yang tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku memang tidak ingin berurusan dengan dia lagi. Aku menutup kaca mobilku. Kulihat nenek itu sudah berada di sisi jalan. Lampu sudah berganti warna menjadi hijau. Aku langsung tancap gas, meninggalkan Budi dengan vespa bututnya.

Kulihat dari kaca spion. Entah mengapa, aku merasa aneh. Hukum Karma? Apa itu memang ada? Sesaat aku meragukan argumenku bahwa aku sama sekali tidak percaya adanya hukum karma. Aku menghela nafas panjang. "Itu tidak ada. Itu tidak ada."

Mobil yang kukendarai melaju dengan cepat. Aku merasa ketegangan menyelimuti tubuhku. Kucoba untuk menghidupkan musik untuk di dengar. Anehnya, aku tidak mendengar apapun. Bahkan aku baru menyadari kalau itu rusak.

Aku mendengus kesal. Kenapa disaat seperti ini harus rusak? Aku mencoba untuk rileks dan tetap fokus di jalanan.

Tiba-tiba terdengar bunyi jatuh di belakang mobilku. Aku penasaran langsung menoleh ke belakang. Namun, tidak ada sesuatu dan semuanya nampak rapi. Aku menghela nafas sambil memegangi dahiku. Aku rasa, aku mulai membayangkan sesuatu yang tidak-tidak semenjak aku melihat nenek aneh itu melintas.

“Hukum karma, ya? Jadi kau tak percaya hukum karma?”

Suara aneh tiba-tiba terdengar serak di telingaku. Aku kembali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Aku kembali mengarah ke depan dan berusaha memfokuskan pandanganku ke jalanan. Tenang-tenang, kau sedang menyetir. Bagaimana jika kau harus berhadapan dengan hukum jika kau kecelakaan?

Tiba-tiba ada sesuatu yang menempel di leherku. Sesuatu itu menempel dingin di leherku. Sesuatu itu seperti mencengkram leherku. Tapi, tunggu dulu. Mencengkram? Aku langsung menoleh ke belakang dengan pelan. Memaksakan kepalaku yang sudah mulai mendingin.

Aku mematung. Melihat sosok itu yang mencengkram leherku. Tangan-tangan kurus yang dingin, dengan kuku-ku panjang nan kotor itu mencengkram leherku. Meskipun cengkremannya tidak kuat, tapi aku bisa merasakan kuku tajamnya seperti mau merobek leherku.

Sesaat kemudian, ia menghilang dari hadapanku. Tanpa sadar, aku hampir melebatibatas jalan. Aku menghela nafasku. Bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa ia menghilang dari hadapanku? Aku meneruskan kembali dan mencoba fokus ke jalan lagi.

Tiba-tiba, telingaku bergetar. Bukan. Seperti ada yang menyentuh telingaku.

Lagi-lagi sentuhan dingin itu. Aku merasakan sentuhan dingin itu. Jari-jari dengan kuku yang tajam itu memegang telingaku. Lembut. Namun, aku merasa merinding dan tak bisa menoleh. Kepalaku terasa dingin. Aku mematung, meskipun dalam keadaan berkendara.

Sosok itu mendekatkan bibirnya di telingaku. Tersenyum sambil menampakkan gigi-gigi kuning nan kotor. Jari telunjuknya mengarahkan ke telinga bagian kiri. Ia berbisik, “Jadi, kau tak percaya hukum karma, ya?”

Aku terdiam. Benar-benar sangat mencekam! Bibirku terkatup rapat. Tak bisa bicara apapun.

Sosok itu semakin mendekatkan jari telunjuknya ke arah telingaku. “Apa kau bilang? Aku sama sekali tidak mendengarkan perkataanmu. Bagaimana kalau aku membuatmu merasakan bagaimana hukum karma sesungguhnya?”

Seketika aku terdiam. Tidak bergeming. Jari-jari itu menusuk dalam telingaku. Membuat tanganku lepas kemudi. Menghantam jalan. Membuat kemacetan di sepanjang jalan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku menoleh ke sisi belakang. Dimana sosok itu? Dia menghilang entah kemana.

Kesadaranku mulai menghilang. Sedangkan banyak mobil polisi yang mulai berdatangan mengerumuniku. Tiba-tiba pandangan di sekitarku berubah gelap. Suara mobil Ambulans yang mulai mendekat, semakin tak terdengar. Pandanganku mulai gelap dan aku tak mendengar suara apapun.

***

Aku membuka mataku perlahan. Melihat sekeliling yang nampak asing bagiku. Aku ada dimana? Aku melihat seorang suster yang berada di samping seorang dokter. Jadi, aku dilarikan di rumah sakit?

Dokter itu tersenyum kepadaku. Ia lalu membuka mulutnya, seperti mengatakan sesuatu padaku. Aku hanya menggeleng pelan. Tidak mengerti apa yang ia katakan. Lebih tepatnya aku tidak mendengar apapun yang ia bicarakan. Tunggu dulu? aku tidak bisa mendengar apapun? Aku merinding, lalu menoleh ke arah dokter dengan tatapan sedih.

Terlihat raut muka dokter tadi berubah. Suster yang ada di sampingnya membawakan sebuah papan tulis. Kulihat dokter itu tengah menulis sesuatu untukku. Setelah itu, ia menunjukkan ke arahku, dengan tulisan yang besar-besar.

“Maaf, kami telah menyelematkan nyawa anda, kecuali pendengaran anda.”

Aku membaca tulisan itu. Aku terhenyak seketika mendapati bahwa aku tidak dapat mendengar lagi untuk selamanya. Aku melampiaskan kemarahanku dengan menarik-narik selimut. Menggenggamnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba aku teringat dengan wanita tua yang pernah aku hardik waktu itu dan sosok yang berada di belakang mobilku waktu itu. Mungkinkah itu orang yang sama?

Aku menginggit bibirku. Aku menarik perkataanku dan menggantinya dengan, “Aku percaya bahwa hukum karma itu ada.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar