Namaku Karang, 21 tahun. Sebagai seorang mahasiswa, aku selalu
disibukkan dengan sebuah skripsi. Aku juga seorang yang pintar dan banyak gadis
di universitas menyukaiku karena aku adalah seorang laki-laki yang sempurna.
Bagaimana tidak? Aku punya segalanya. Aku punya wajah yang tampan
hingga setiap laki-laki yang melihat. Aku punya uang yang banyak hingga setiap
wanita menginginkan hartaku. Aku punya otak yang cerdas hingga semua mahasiswa
ingin seperti diriku.
Aku rasa aku kehidupanku sangat baik. Aku bisa memenuhi apapun
tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Aku juga sangat populer di universitasku. Tak juga, banyak agen majalah
menarikku untuk menjadi model iklan majalah fashion bulanan. Ah, hidupku benar-benar
indah.
Hanya saja, aku tak percaya kalau hukum karma itu benar-benar ada.
Bagaimana tidak? Di abad 21, tahun yang dipenuhi teknologi canggih
dan manusia dengan akal yang luat biasa masih mempercayai hukum karma? Bodoh!
Itu sama seperti ajaran nenek moyang yang sangat percaya hukum karma. Mereka
selalu berkoar-koar, "Hukum karma masih berlaku." Aku rasa kalimat
itu masih sering terdengar pada masa sekarang.
Soal hukum karma, aku tak percaya jika karma masih berlaku. Aku
punya segalanya! Aku memiliki kasta golongan atas. Jadi, hukum karma kubuang
jauh-jauh dari kamus besarku. Kuganti dengan "Hukum Karang."
Hahaha....
Kali ini, seperti biasa aku kuliah. Aku mengendarai mobil keluaran
terbaru yang membuat siapapun terkagum-kagum. Aku berhenti di lampu merah.
Seorang nenek tua melintas tepat di zebracross. Nenek tua itu memiliki badan
yang bungkuk dan baju yang compang-camping. Ia menyebrang sangat lambat.
Membuatku tidak sabaran untuk menabraknya.
Kubunyikan klakson berkali-kali. Nenek tua itu tidak
menghiraukannya. Kakinya bergetar setiap ia melangkah. Karena tidak sabar, aku
membuka jendela mobil, mengatai nenek tua itu.
"Hei, nek! Bisakah kau berjalan lebih cepat?" Kataku
dengan ketus.
Nenek itu tetap saja berjalan lambat. Ia sama sekali tidak merespon
perkataanku sama sekali. Bahkan menolehpun tidak.
Aku semakin geram. Aku memainkan klakson mobil keras. Mumpung tidak
banyak kendaraan yang berhenti di lampu merah saat itu. Budi yang mengendarai
vespa bututnya menoleh ke arahku.
"Hei, karang! Bisakah kau tidak memarahi nenek itu? Dia sudah
tua. Ingat! Hukum karma masih berlaku."
Argh! Dia mengatakan
hukum karma yang tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku memang tidak ingin
berurusan dengan dia lagi. Aku menutup kaca mobilku. Kulihat nenek itu sudah
berada di sisi jalan. Lampu sudah berganti warna menjadi hijau. Aku langsung
tancap gas, meninggalkan Budi dengan vespa bututnya.
Kulihat dari kaca spion. Entah mengapa, aku merasa aneh. Hukum
Karma? Apa itu memang ada? Sesaat aku meragukan argumenku bahwa aku sama sekali
tidak percaya adanya hukum karma. Aku menghela nafas panjang. "Itu tidak
ada. Itu tidak ada."
Mobil yang kukendarai melaju dengan cepat. Aku merasa ketegangan
menyelimuti tubuhku. Kucoba untuk menghidupkan musik untuk di dengar. Anehnya,
aku tidak mendengar apapun. Bahkan aku baru menyadari kalau itu rusak.
Aku mendengus kesal. Kenapa disaat seperti ini harus rusak? Aku
mencoba untuk rileks dan tetap fokus di jalanan.
Tiba-tiba terdengar bunyi jatuh di belakang mobilku. Aku penasaran
langsung menoleh ke belakang. Namun, tidak ada sesuatu dan semuanya nampak
rapi. Aku menghela nafas sambil memegangi dahiku. Aku rasa, aku mulai
membayangkan sesuatu yang tidak-tidak semenjak aku melihat nenek aneh itu
melintas.
“Hukum karma, ya? Jadi kau tak percaya hukum karma?”
Suara aneh tiba-tiba terdengar serak di telingaku. Aku kembali
menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Aku kembali mengarah ke depan dan
berusaha memfokuskan pandanganku ke jalanan. Tenang-tenang, kau sedang
menyetir. Bagaimana jika kau harus berhadapan dengan hukum jika kau kecelakaan?
Tiba-tiba ada sesuatu yang menempel di leherku. Sesuatu itu
menempel dingin di leherku. Sesuatu itu seperti mencengkram leherku. Tapi,
tunggu dulu. Mencengkram? Aku langsung menoleh ke belakang dengan pelan.
Memaksakan kepalaku yang sudah mulai mendingin.
Aku mematung. Melihat sosok itu yang mencengkram leherku.
Tangan-tangan kurus yang dingin, dengan kuku-ku panjang nan kotor itu
mencengkram leherku. Meskipun cengkremannya tidak kuat, tapi aku bisa merasakan
kuku tajamnya seperti mau merobek leherku.
Sesaat kemudian, ia menghilang dari hadapanku. Tanpa sadar, aku
hampir melebatibatas jalan. Aku menghela nafasku. Bagaimana itu bisa
terjadi? Kenapa ia menghilang dari hadapanku? Aku meneruskan kembali dan
mencoba fokus ke jalan lagi.
Tiba-tiba, telingaku bergetar. Bukan. Seperti ada yang menyentuh
telingaku.
Lagi-lagi sentuhan dingin itu. Aku merasakan sentuhan dingin itu. Jari-jari
dengan kuku yang tajam itu memegang telingaku. Lembut. Namun, aku merasa
merinding dan tak bisa menoleh. Kepalaku terasa dingin. Aku mematung, meskipun
dalam keadaan berkendara.
Sosok itu mendekatkan bibirnya di telingaku. Tersenyum sambil
menampakkan gigi-gigi kuning nan kotor. Jari telunjuknya mengarahkan ke telinga
bagian kiri. Ia berbisik, “Jadi, kau tak percaya hukum karma, ya?”
Aku terdiam. Benar-benar sangat mencekam! Bibirku terkatup rapat. Tak
bisa bicara apapun.
Sosok itu semakin mendekatkan jari telunjuknya ke arah telingaku. “Apa
kau bilang? Aku sama sekali tidak mendengarkan perkataanmu. Bagaimana kalau aku
membuatmu merasakan bagaimana hukum karma sesungguhnya?”
Seketika aku terdiam. Tidak bergeming. Jari-jari itu menusuk dalam
telingaku. Membuat tanganku lepas kemudi. Menghantam jalan. Membuat kemacetan
di sepanjang jalan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku menoleh ke
sisi belakang. Dimana sosok itu? Dia menghilang entah kemana.
Kesadaranku mulai menghilang. Sedangkan banyak mobil polisi yang
mulai berdatangan mengerumuniku. Tiba-tiba pandangan di sekitarku berubah
gelap. Suara mobil Ambulans yang mulai mendekat, semakin tak terdengar. Pandanganku
mulai gelap dan aku tak mendengar suara apapun.
***
Aku membuka mataku perlahan. Melihat sekeliling yang nampak asing
bagiku. Aku ada dimana? Aku melihat seorang suster yang berada di samping
seorang dokter. Jadi, aku dilarikan di rumah sakit?
Dokter itu tersenyum kepadaku. Ia lalu membuka mulutnya, seperti
mengatakan sesuatu padaku. Aku hanya menggeleng pelan. Tidak mengerti apa yang
ia katakan. Lebih tepatnya aku tidak mendengar apapun yang ia bicarakan. Tunggu
dulu? aku tidak bisa mendengar apapun? Aku merinding, lalu menoleh ke arah
dokter dengan tatapan sedih.
Terlihat raut muka dokter tadi berubah. Suster yang ada di
sampingnya membawakan sebuah papan tulis. Kulihat dokter itu tengah menulis sesuatu
untukku. Setelah itu, ia menunjukkan ke arahku, dengan tulisan yang
besar-besar.
“Maaf, kami telah menyelematkan nyawa anda, kecuali pendengaran
anda.”
Aku membaca tulisan itu. Aku terhenyak seketika mendapati bahwa aku
tidak dapat mendengar lagi untuk selamanya. Aku melampiaskan kemarahanku dengan
menarik-narik selimut. Menggenggamnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba aku
teringat dengan wanita tua yang pernah aku hardik waktu itu dan sosok yang
berada di belakang mobilku waktu itu. Mungkinkah itu orang yang sama?
Aku menginggit bibirku. Aku menarik perkataanku dan menggantinya
dengan, “Aku percaya bahwa hukum karma itu ada.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar