Oymyakon, Uni Soviet
Kala itu, tahun 1925. Tepatnya 3 tahun setelah negara Uni Soviet
terbentuk pada Desember 1922 dengan ibu kota di Moskwa. Uni Soviet yang
kekuasaannya sampai melebar ke daerah yang sekarang disebut Asia Tengah. Kala
itu, Josef Stalin memimpin Uni Soviet pasca kematian Vladimir Lenin.
Bulan Desember di kota Oymyakon. Salah satu kota dengan suhu
terdingin di Uni Soviet. Di mana terdapat banyak bongkahan es dan salju tiap
hari selalu turun menutupi kota kecil itu. pada tahun 1920, kota itu hanya
dihuni oleh 500 orang. Kebanyakan penduduknya berpindah tempat. Tidak sanggup
lagi bertahan di tempat yang paling dingin di Uni Soviet. Penduduk di sana
memakai topi berbulu lebat yang menutupi kepala sampai telinga dan memakai pakaian
tebal. Pernah tercatat suhu tertinggi di kota tersebut mencapai -71 derajat
celcius.
Karena suhu yang sangat dingin, semua dilakukan serba sederhana.
Masyarakat membuat rumah memakai kayu dan mereka tidak bisa dipisahkan dengan
batu bara. Bagi mereka, batu bara adalah sumber tenaga yang bisa mereka gunakan
dalam keadaan apapun termasuk untuk menghangatkan ruangan dan menciptakan api.
Matahari di sana tertutupi oleh awan putih dan membuat kota itu membeku
meskipun sudah tiba musim panas. Karena suhu yang sangat dingin, sangat susah
untuk menguburkan jenazah orang yang telah meninggal. Mereka harus membakar
tanah agar es yang menutupi tanah bisa mencair baru menggali tanah dan
memasukkannya ke tanah yang telah digali. Karena suhu yang sangat dingin juga,
mayat-mayat tersebut layaknya orang yang masih hidup. Seperti mumi yang
diawetkan.
Salah satu harta karun kota itu adalah adanya sumber air panas yang
biasanya digunakan penggembala rusa untuk memberi rusa mereka minuman. Sumber
air panas itu juga digunakan oleh penduduk kota Oymyakon untuk segala kebutuhan
mengingat mereka sangat membutuhkan kehangatan.
Gadis itu, dengan pakaian tebal dan sepatu bot berbulu mengantri
untuk memberi minum rusanya. Ia menyiduk sumber air panas lalu memasukkannya ke
mulut rusa miliknya. Gadis itu bernama Annastasia Lyubov.
Annastasia mengusap pipinya yang kedinginan. Ia segera menyeret
rusanya pulang ke rumah. Sejujurnya, ia tidak punya tempat untuk pulang.
Keluarganya tidak ada. Seperti yang kukatakan, kota Oymyakon sangatlah dingin.
Banyak penduduk yang terpaksa pindah karena tidak tahan dengan dinginnya kota
tersebut. Termasuk keluarganya.
Ayahnya, Antonio Lyubov telah meninggal sejak kecil karena tersesat
dan kedinginan di tengah hutan saat mencari rusa untuk disembelih. Sampai
sekarang, ia tidak pernah mendengar kabar bahwa ayahnya masih hidup. Para
tetangga sudah memutuskan jika ayah Annastasia sudah mati. Namun, dalam hati
kecilnya, ia yakin ayahnya masih hidup.
Ketika ia berumur 15 tahun, ibunya yang bernama Irene Lyubov bunuh
diri dengan menusuk dirinya dengan pisau. Ia tidak tahu mengapa ibunya bunuh
diri dan tega meninggalkan dirinya. Annastasia yang waktu itu masih remaja
tanggung, merasa terpukul melihat ibunya terbujur kaku. Karena tidak punya uang
yang cukup, ia menguburkan ibunya sendirian di dekat rumahnya. Setiap kali ia
pulang ke rumah, ia akan disuguhi oleh bau busuk mayat ibunya yang perlahan
tertutup salju.
Saat ini, ia berumur 18 tahun. Yang ia punya hanyalah rusa yang ia
pelihara sendirian. Sekarang, ia telah cukup dewasa. Ia berniat melarikan diri
dari kota itu. masalahnya, ia tak tahu harus kemana. Ia berhenti sekolah saat
umurnya 15 tahun. Ia tidak terlalu paham tentang dunia luar. Apakah dunia luar
akan sedingin kotanya? Ia menggigit bibirnya. Ia megutuk dalam-dalam pemerintah
sekarang. Uni Soviet membiarkan suku-suku nomaden itu menetap agar mudah
dipantau. Di sisi lain, ia membenci pemerintahan yang membiarkan kotanya mati
karena kedinginan.
Annastasia membulatkan tekadnya. Ia memutuskan untuk pergi ke
Moskwa. Sebelum itu, ia menyiapkan pakaian dan makanan yang sekiranya cukup
untuk bertahan hidup. Ia juga membawa novel karangan Fyodor Dostoyevsky yang
berjudul Crime and Punishment. Ia suka sekali novel karangan Fyodor.
Menurutnya, novel itu adalah pemberian dari ayahnya yang sangat berharga.
Ia menutup pintu. Memberikan makanan kepada rusanya untuk terakhir
kali. Ia mengusap rusanya pelan. “Baik-baik sajalah di sini. Aku akan pergi.
Kalau kau mau, kau boleh memakan apapun di sekitar rumah.”
Annastasia kemudian berjalan ke arah barat. Ia tahu jika Moskwa
sangatlah jauh dari Oymyakon. Ia tidak tahu jika ia bisa saja mati kelaparan di
tengah jalan. Ia menunggang kuda liar yang ia temukan di hutan. Karena didikan
ayahnya, Annastasia bisa menunggangi kuda itu dengan baik. Bahkan, ia sangat
baik dalam menunggang kuda lebih baik dari orang-orang di kotanya.
Annastasia menunggangi kuda dan berhasil keluar di kota paling
dingin di Uni Soviet. Kala itu musim dingin. Kota-kota juga tertutup salju
meskipun tidak separah di Oymyakon. Setidaknya ia masih bisa melihat dengan
jelas. Ia juga sesekali berhenti. Memberi makan dan minuman kuda liar tersebut,
Annastasia sudah berkelana jauh. Oymyakon sudah tertinggal jauh di
sana. Sudah berhari-hari ia menunggangi kuda liar tersebut. Meskipun sesekali
kuda liar itu meringkik keras. Tidak mau jalan. Sesekali juga Annastasia tidur
di atas kuda. Tidur di bawah pohon.
Baru seminggu Annastasia pergi. Ia melihat perbekalannya. Ia meringis,
melihat makanan yang ia bawa tinggal sedikit. Apalagi ia harus memberi makan
kuda liar itu rerumputan atau dia akan meringik kembali. Ia menoleh ke segala
arah. Ia tidak membawa peta. Ia juga tidak tahu apapun tentang kota ini. Hanya
hamparan tanah yang ditutupi salju tipis dengan bekas-bekas rumah kosong.
Sepertinya kota ini adalah bekas peperangan dahulu.
Ia memegangi perutnya yang keroncongan. Sakit. Bisa jadi,
Annastasia akan pingsan di tengah jalan tanpa ada seorang pun yang menolong. Ia
memutuskan untuk berjalan. Ia tidak menunggangi kuda. Takut jika kuda liar itu
larinya tidak kencang karena belum dikasih makan. Annastasia menuntun kuda
tersebut.
Baru beberapa langkah Annastasia berjalan, ia jatuh tersungkur
dengan wajah yang terlebih dahulu menyentuh tanah. Ia sangat lemas. Annastasia
mengambil tindakan buruk. Ia terpaksa tidak makan. Mengingat bekalnya hanyalah
sepotong roti gandum. Ia tidak bisa memakannya. Jika ia memakannya, sudah pasti
roti gandum itu akan langsung dihabiskannya dalam sekejap.
Pandangannya mulai gelap. Annastasia mengerjapkan matanya. Apakah
ia harus mati kelaparan di sini? Atau ada seseorang yang akan menyelamatkannya?
Bayang-bayang akan ayahnya tiba-tiba muncul. Ia teringat saat ayahnya
memberikan novel karangan penulis terkenal era Uni Soviet dulu. Crime and Punishment.
Novel itu sangat menarik. Di mana jika seseorang melakukan kejahatan, harus
mendapatkan hukuman. Ayahnya sering menceritakan begitu. Entah mengapa,
meskipun ayahnya telah meninggalkannya lama, ia yakin jika ayahnya masih hidup
di suatu tempat.
“Hei, nona! Jangan pingsan di sini.” Suara itu terdengar sumbang di
telinga Annastasia. Namun, cukup membuat ia sedikit tersadar. Ia membuka
matanya pelan-pelan. Nampak seorang pria yang berpakaian rapi dengan sepatu bot
yang setinggi lutut.
“Nona? Bangunlah!” katanya.
Annastasia mencoba bangkit. Terduduk lesu. Pria yang ada di
hadapannya itu mensejajarkan padanya.
“Nona? Apa kau mau makanan?” Pria itu menawarkan makanan kepadanya.
Sebuah roti dengan isi daging. Annastasia menelan ludah. Ia sudah lama tidak
makan daging. Ia lantas mengambil roti itu dari tangan pria. Memakannya sampai
habis.
Pria yang ada di hadapannya itu tersenyum melihat tingkah aneh
Annastasia. “Namaku Grisha Markovic. Panggil saja aku Grisha. Namamu siapa?”
Annastasia terdiam sebentar. “Annastasia Lyubov.”
Grisha itu memperbaiki mengusah pakaiannya dari salju yang turun.
“Oh, Annastasia! Kau dari mana? Dan, kenapa kau membawa kuda?”
“Aku dari kota Oymyakon. Aku keluar kota dan ingin pergi ke
Moskwa.”
Mata Grisha melebar. “Oymyakon? Astaga! Itu adalah kota yang paling
dingin di Uni Soviet. Dan kau mau ke Moskwa? Itu sangat jauh sekali,
Annastasia.”
Annastasia hanya terdiam. “Aku ingin ke sana.”
“Baiklah, Annastasia.” Grisha langsung berdiri. Annastasia
mengangkat wajahnya. Sebuah kuda hitam. “Kebetulan aku juga mau ke sana. Kau
bisa ikut denganku.”
Annastasia berpikir sebentar. “Bagaimana dengan kudaku? Ia belum
sama sekali kukasih makan.”
“Kudamu? Tinggal saja dia, Annastasia. Kau bisa ikut denganku
dengan naik di belakang. Semua akan baik-baik saja, Annastasia. Aku tahu jalan
ke Moskwa.”
Mendengar ucapan Grisha, membuat Annastasia sedikit menurut. Ia
menaiki kuda hitam milik Grisha. Berpegang erat. Grisha tersenyum senang.
“Baiklah, Annastasia. Pegangan yang erat. Karena kuda ini akan melaju kencang.”
Tanpa memakan waktu lama, kuda yang ditunggangi Grisha dan
Annastasia melaju kencang secepat mobil. Annastasia menoleh ke belakang. Kuda
liar yang ia pungut sudah tertinggal jauh. Meringkik keras. Dan pada akhirnya,
petualangan Annastasia ditemani oleh Grisha. Pemuda berpakaian rapi yang
kira-kira umurnya lebih tua darinya namun tidak terpaut jauh. Di dalam hatinya,
Annastasia berterima kasih kepada Grisha karena membantunya. Mengingat ia
hampir pingsan karena kelaparan. Setidaknya dengan adanya Grisha, Annastasia
bisa ke Moskwa dengan cepat.
Sudah hampir lima jam kuda itu berjalan. Tentu kuda itu sudah
lelah. Mereka berdua turun dan mendapati rumah kosong tanpa penghuni. Grisha
memeriksa rumah itu sebelum Annastasia masuk. Grisha tersenyum senang karena
rumah kosong itu dapat dijadikan tempat istirahat.
Grisha langsung membuat api. Annastasia melepas jaket tebal yang ia
kenakan. Basah. Ia belum melepas jaketnya sama sekali. Ia memakai baju lengan
panjang dengan rok panjang lalu meletakkan jaketnya ke perapian. Ia melihat
Grisha yang tetap berpakaian rapi meskipun sedang beristirahat sambil
menghangatkan tubuh.
Karena baru pertama kali berkenalan, mereka sedikit canggung. Hanya
hembusan nafas yang terdengar. Merasa bosan, Annastasia mengambil novel
favoritnya lalu membacanya dengan cahaya api. Grisha menoleh ke arah Annastasia
yang sangat serius membaca novel. Ia tersenyum senang melihat judulnya.
“Kau suka karya Fyodor, ya?” katanya.
Annastasia hanya terdiam. Ia sama sekali tidak tertarik untuk
menjawab pertanyaan Grisha. Ia fokus ke novelnya. Grisha yang melihatnya
mendengus pelan. Gadis yang baru ditemuinya sangat dingin. Tapi kalau dilihat
secara seksama, Annastasia cukup cantik dengan rambut coklat yang terurai
panjang dengan mata yang berwarna abu-abu. Grisha mengamatinya cukup lama
hingga Annastasia menoleh ke arahnya. Membuyarkan tatapannya.
“Kau untuk apa pergi ke Moskwa?” tanya Annastasia.
“Untuk bertemu ayahku. Aku sebenarnya ditugaskan di suatu daerah.
Saat jalan pulang, aku menemukanmu dan mengajakmu ikut bersamaku ke Moskwa.”
Annastasia sedikit tersenyum. “Terima kasih. Kau sangat baik.”
Annastasia kembali fokus ke novelnya. Crime and Punishment.
Di mana seseorang melakukan sebuah kejahatan, maka ia harus mendapatkan
hukuman. Karya terbaik dari pengarang terkenal Fyodor Dostoyevsky.
“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama,” kata Grisha,
“kenapa kau suka novel itu?”
Annastasia menoleh ke arah Grisha. “Novel ini?” katanya sambil
menunjukkan judul bukulnya. “Aku suka sekali karena ini pemberian ayahku.
Kata-kata yang digunakan sangat bagus. Ayahku selalu menjelaskan maksud dari
novel ini. Di mana seseorang melakukan kejahatan, maka ia harus mendapat hukuman.
Begitulah.”
Grisha hanya bergumam pendek. “Crime and Punishment.” Ia
mengatakannya hampir sama dengan yang dikatakan Annastasia. Grisha menguap
lebar-lebar. “Ah, Annastasia. Aku mulai mengantuk. Apa kau tidak tidur?” tanya
Grisha.
Annastasia menggeleng pelan. Ia sama sekali belum mengantuk.
“Baiklah, kalau begitu. Aku mau tidur dulu. Keluargaku besok.”
Grisha membaringkan tubuhnya. Ia langsung tertidur pulas.
Annastasia tidak bisa dengan tenang membaca novel sekarang.
Mendengar tujuan Grisha datang ke Moskwa, hanya untuk bertemu keluarganya. Apakah
ia bisa bertemu ayahnya? Bisakah ia bertemu salah satu keluarga yang ia punya?
Malam itu, Annastasia tidak bisa menikmati novelnya. Ada dua perasaan muncul di
dalam hatinya. Pertama, ia percaya jika ayahnya masih hidup. Kedua, ia mulai
menyadari jika ia amat mengagumi Grisha.
*
Pagi harinya, mereka berdua sedikit terlambat. Grisha membangunkan
Annastasia. Kemungkinan, Annastasia tidur larut malam. Annastasia langsung
kaget menyadari jika ia bangun agak telat. Seperti biasa, Grisha sudah
berpakaian rapi seperti biasanya. Grisha juga memperingatkan Annastasia harus
memakai jaket tebal. Karena prediksi Moskwa akan turun salju lebat. Ia juga
memberikan sebuah pistol colt yang seharusnya tidak boleh diberikan
kepada siapapun. Grisha memberikannya karena untuk alasan keselamatan. Ia tidak
mau jika Annastasia terluka jika bertemu dengan orang-orang jahat di Moskwa.
Untuk pertama kalinya, Annastasia memegangi pistol. Tangannya
sempat gemetaran saat memegang pistol. Namun, Grisha meyakinkan Annastasia jika
itu sangat penting untuk berjaga-jaga. Mereka berdua bersama-sama naik kuda
hitam milik Grisha. Annastasia memegangi pundak Grisha. Kali ini ia merasa
nyaman dengan pria yang baru ia temui. Grisha juga mempunyai perasaan yang
sama. Ia merasa sangat senang membantu gadis yang hampir pingsan di tengah
jalan.
“Oh, iya Annastasia. Jika kau belum menemukan apapun yang kau mau
ketika kau sampai ke Moskwa, maukah kau ikut denganku?” tanya Grisha.
Annastasia terdiam sebentar. Ia tahu maksud dari ucapan Grisha. Ia
mengangguk pelan. “Ya. Aku akan ikut denganmu.”
Grisha tersenyum lebar. “Baiklah kalau begitu. Pegangan yang erat.
Karena kuda hitam ini akan melesat secepat mobil.”
Annastasia sedikit tergelak. Ia belum memegang pundak Grisha dan
kuda sudah melaju dengan kencang. Annastasia sedikit tertawa. Ia hampir saja
terjatuh. Namun, ia sangat bangga menemukan pria yang menurutnya˗˗sangat baik.
Entah mengapa, ia menemukan kebahagiaan tersendiri saat bersama Grisha.
Setelah dua jam kuda itu berjalan, mereka baru sampai di Moskwa.
Grisha memberhentikan kuda hitam miliknya. Ia melepaskannya sembarang ke
seseorang. Grisha menoleh ke arah Annastasia. “Kita sudah sampai ke Moskwa.
Ayo, akan kuajak kau ke rumahku. Sebelum itu, ada seseorang yang harus ku
temui.”
Annastasia mengangkat alisnya sebelah. “Seseorang?”
“Iya. Aku bekerja di bagian kemiliteran. Aku bertugas menyelidiki
tempat-tempat yang rusak akibat perang dan aku harus melaporkannya sekarang.”
Annastasia hanya menurut. Grisha menarik tangan Annastasia.
Mengajak gadis itu untuk berkeliling sambil menemui seseorang.
Untuk pertama kalinya, Annastasia datang ke Moskwa, ibu kota Uni
Soviet. Ia melihat jalanan Moskwa yang tertutup salju tipis. Beberapa orang
berlalu lalang dengan pakaian tebal meskipun tidak setebal orang-orang yang
berada di Oymyakon. Ia melihat tangan Grisha yang menggenggam tangannya. Begitu
besar dan hangat. Tangan hangat itu
menggenggam tangan Annastasia yang kedinginan sejak tadi. Bahkan tangannya
hampir membeku.
Beberapa menit kemudia, kedua telah sampai di bangunan dengan gaya
eropa yang sangat mewah. Menjulang tinggi. Bangunan itu tetap mewah meskipun
salju putih sedikit menutupi ornament bangunan itu. “Lewat sini, Annastasia.”
Annastasia mengikuti Grisha dari belakang. Ia mengikuti punggung
Grisha. Ia juga penasaran, siapakah orang yang akan ditemui Grisha. Apakah
kekasihnya? Annastasia tidak terlalu mengerti jika Grisha mempunyai kekasih.
Mungkin, Grisha akan bertemu dengan bosnya.
Mereka telah sampai di depan pintu kayu berwarna coklat. Grisha
membuka pintu itu dengan pelan. Nampaklah seorang pria dewasa bersama dengan
seorang wanita berpakaian ala eropa sedang berpelukan. Grisha yang melihatnya
sedikit canggung. Namun, Annastasia merasa tidak asing dengan apa yang
dilihatnya. Ia melongo. Matanya melebar, mengenali siapa pria yang ada di
hadapannya. Dialah ayah Annastasia. Antonio Lyubov.
Grisha menoleh ke arah Annastasia. “Kenapa? Oh, itulah orang yang
akan kutemui. Dan wanita yang ada di sampingnya adalah˗˗”
“Cukup!” teriak Annastasia. “Ayah, apakah kau ingat kepadaku?”
Pria dewasa itu menatap Annastasia lama. Ia mengangkat wajahnya.
“Apakah itu kau, Annastasia?” tanyanya. “Apa yang kau lakukan di sini,
Annastasia?”
Seketika wajah Annastasia menjadi merah padam. “Ayah bertanya
mengapa aku di sini? Lalu, apa yang ayah lakukan di Moskwa? Siapa wanita itu?”
Antonio melepaskan pelukannya. Ia menghela nafas sebentar. “Maafkan
ayah, Annastasia. Kami sudah bertemu sebelum aku bertemu dengan ibumu. Maafkan
aku, Annastasia.”
Semua sudah jelas. Apa yang dipikirkan Annastasia sekarang sudah
jelas. Ia tahu sekarang. Alasan ayahnya yang berburu lalu meninggal adalah
kedok semata untuk meninggalkan Annastasia dan ibunya sendirian dan pergi
bersama wanita impiannya. Juga ibunya, yang bunuh diri karena mengetahui kabar
jika Antonio sudah memiliki keluarga sebelum mereka bertemu. Semuanya sudah
jelas. Jika Antonio melakukan kejahatan terbesar dalam hidupnya. Yaitu bertemu
dengan wanita lain, berbohong kepada Annastasia, dan membuat ibu Annastasia˗˗Irene
Lyubov bunuh diri.
Tiba-tiba, ia teringat novel pemberian ayahnya. Crime and
Punishment. Di mana seseorang melakukan kejahatan, maka seseorang itu harus
mendapatkan hukuman. Annastasia mengeluarkan pistol colt pemberian
Grisha. Menodongkan pisau itu tepat ke arah ayahnya. Dengan kebencian yang
memenuhi hatinya, ia tidak gemetaran ketika memegang pistol.
Dulu, ia sangat berharap jika ayahnya masih hidup. Kini, ia merubah
pikiran tersebut. Ia berharap, jika ayahnya sudah mati saat itu juga. Kebencian
menutup hatinya. Crime and Punishment. Saat ini, ia bersiap menghukum
ayahnya.
Grisha yang ada di sampingnya menarik Annastasia ke belakang.
Annastasia yang bersiap menembak, terganggu oleh Grisha. Grisha menekuk
bibirnya. “Aku mohon Annastasia. Sadarlah. Janganlah kau menghukumnya. Kau
berjanji akan ikut denganku bukan? Hentikanlah!”
Annastasia tetap tidak bergeming. Ia masih bisa menodongkan pisau
ke arah Antonio. Ia berusaha memberontak dalam dekapan Grisha.
“Aku mohon Annastasia. Hentikanlah! Baiklah, bisakah kau turunkan
pistolmu? Aku berjanji, akan menghukumnya. Aku berjanji, Annastasia.”
Seketika Annastasia terdiam. Ia dapat mendengarkan apa yang
dikatakan Grisha. Ia menurunkan pistolnya. Tapi, ia masih benci kepada ayahnya
yang menyembunyikan semuanya. Ia berniat menghukumnya. Tapi, Grisha berjanji
akan membalasnya. Annastasia mengikuti kata Grisha. Menyimpan pistol itu di
bali baju.
“Annastasia, bisakah kau tunggu di luar? Aku berjanji, akan menghukumnya.
Apapun itu. Bisa jadi, dia tidak salah, Annastasia.”
Annastasia menuruti kata Grisha. Dengan hati yang masih dipenuhi
rasa kebencian terhadap Antonio, ia meninggalkan ruangan dan menunggu sebuah
kebenaran.
*
Saat itu, Grisha merasa terpukul ketika melihat Annastasia kabur.
Annastasia menghilang entah ke mana. Ia mencari gadis yang ia sayangi di
mana-mana. Grisha menceritakan kebenaran kepadanya dan Annastasia berlari
dengan seluruh kekesalannya.
Saat itu juga, Grisha berdiri di pinggir jembatan Moskwa.
Annastasia menghilang. Grisha sudah putus harapan. Ia menghembuskan nafasnya.
Menengok ke bawah sungai di bawah jembatan itu. Permukaan air sungai yang
membeku karena musim dingin. Jika seseorang berenang di sana, sudah pasti ia
akan mati kedinginan. Itulah yang dipikirkan oleh Grisha.
Grisha masih mengenang gadis itu. Berharap, Annastasia dapat
memafkannya. “Maafkan aku, Annastasia. Aku tidak bisa menghukumnya. Aku lah
yang berbuat kejahatan,” katanya lirih.
Crime and Punishment.
Judul buku yang selalu dibaca Annastasia. “Maafkan aku, Annastasia. Takdir
memang begitu kejam. Seandainya aku tak ditugaskan ke daerah itu. Seandainya
aku tak menolongmu waktu pingsan. Seandainya aku tak mengajakmu pergi ke
Moskwa. Seandainya aku tak mengajakmu untuk menemui seseorang. Seandainya aku
tak memiliki perasaan itu.” Grisha menghentikan perkataannya. Ia menghela nafas
panjang. “Seandainya aku tak bertemu adik perempuanku.”
Grisha berdiri di pinggir jembatan. Menatap permukaan air sungai
yang diselimuti es tipis. Ia menghembuskan nafas panjang. Bersiap untuh
melakukan semuanya. “Annastasia,” katanya lirih. “Aku akan menghukum diriku
sendiri.”
Grisha melompat ke sungai yang dingin tersebut. Ia menghukum
dirinya sendiri. Esoknya, warga Moskwa menemukan mayat Grisha mengambang di
sungai dan Annastasia menghilang entah ke mana.