Kamis, 30 Juni 2016

Annastasia



Oymyakon, Uni Soviet 

Kala itu, tahun 1925. Tepatnya 3 tahun setelah negara Uni Soviet terbentuk pada Desember 1922 dengan ibu kota di Moskwa. Uni Soviet yang kekuasaannya sampai melebar ke daerah yang sekarang disebut Asia Tengah. Kala itu, Josef Stalin memimpin Uni Soviet pasca kematian Vladimir Lenin.

Bulan Desember di kota Oymyakon. Salah satu kota dengan suhu terdingin di Uni Soviet. Di mana terdapat banyak bongkahan es dan salju tiap hari selalu turun menutupi kota kecil itu. pada tahun 1920, kota itu hanya dihuni oleh 500 orang. Kebanyakan penduduknya berpindah tempat. Tidak sanggup lagi bertahan di tempat yang paling dingin di Uni Soviet. Penduduk di sana memakai topi berbulu lebat yang menutupi kepala sampai telinga dan memakai pakaian tebal. Pernah tercatat suhu tertinggi di kota tersebut mencapai -71 derajat celcius. 

Karena suhu yang sangat dingin, semua dilakukan serba sederhana. Masyarakat membuat rumah memakai kayu dan mereka tidak bisa dipisahkan dengan batu bara. Bagi mereka, batu bara adalah sumber tenaga yang bisa mereka gunakan dalam keadaan apapun termasuk untuk menghangatkan ruangan dan menciptakan api. Matahari di sana tertutupi oleh awan putih dan membuat kota itu membeku meskipun sudah tiba musim panas. Karena suhu yang sangat dingin, sangat susah untuk menguburkan jenazah orang yang telah meninggal. Mereka harus membakar tanah agar es yang menutupi tanah bisa mencair baru menggali tanah dan memasukkannya ke tanah yang telah digali. Karena suhu yang sangat dingin juga, mayat-mayat tersebut layaknya orang yang masih hidup. Seperti mumi yang diawetkan.

Salah satu harta karun kota itu adalah adanya sumber air panas yang biasanya digunakan penggembala rusa untuk memberi rusa mereka minuman. Sumber air panas itu juga digunakan oleh penduduk kota Oymyakon untuk segala kebutuhan mengingat mereka sangat membutuhkan kehangatan.

Gadis itu, dengan pakaian tebal dan sepatu bot berbulu mengantri untuk memberi minum rusanya. Ia menyiduk sumber air panas lalu memasukkannya ke mulut rusa miliknya. Gadis itu bernama Annastasia Lyubov.

Annastasia mengusap pipinya yang kedinginan. Ia segera menyeret rusanya pulang ke rumah. Sejujurnya, ia tidak punya tempat untuk pulang. Keluarganya tidak ada. Seperti yang kukatakan, kota Oymyakon sangatlah dingin. Banyak penduduk yang terpaksa pindah karena tidak tahan dengan dinginnya kota tersebut. Termasuk keluarganya.

Ayahnya, Antonio Lyubov telah meninggal sejak kecil karena tersesat dan kedinginan di tengah hutan saat mencari rusa untuk disembelih. Sampai sekarang, ia tidak pernah mendengar kabar bahwa ayahnya masih hidup. Para tetangga sudah memutuskan jika ayah Annastasia sudah mati. Namun, dalam hati kecilnya, ia yakin ayahnya masih hidup.

Ketika ia berumur 15 tahun, ibunya yang bernama Irene Lyubov bunuh diri dengan menusuk dirinya dengan pisau. Ia tidak tahu mengapa ibunya bunuh diri dan tega meninggalkan dirinya. Annastasia yang waktu itu masih remaja tanggung, merasa terpukul melihat ibunya terbujur kaku. Karena tidak punya uang yang cukup, ia menguburkan ibunya sendirian di dekat rumahnya. Setiap kali ia pulang ke rumah, ia akan disuguhi oleh bau busuk mayat ibunya yang perlahan tertutup salju.

Saat ini, ia berumur 18 tahun. Yang ia punya hanyalah rusa yang ia pelihara sendirian. Sekarang, ia telah cukup dewasa. Ia berniat melarikan diri dari kota itu. masalahnya, ia tak tahu harus kemana. Ia berhenti sekolah saat umurnya 15 tahun. Ia tidak terlalu paham tentang dunia luar. Apakah dunia luar akan sedingin kotanya? Ia menggigit bibirnya. Ia megutuk dalam-dalam pemerintah sekarang. Uni Soviet membiarkan suku-suku nomaden itu menetap agar mudah dipantau. Di sisi lain, ia membenci pemerintahan yang membiarkan kotanya mati karena kedinginan.

Annastasia membulatkan tekadnya. Ia memutuskan untuk pergi ke Moskwa. Sebelum itu, ia menyiapkan pakaian dan makanan yang sekiranya cukup untuk bertahan hidup. Ia juga membawa novel karangan Fyodor Dostoyevsky yang berjudul Crime and Punishment. Ia suka sekali novel karangan Fyodor. Menurutnya, novel itu adalah pemberian dari ayahnya yang sangat berharga.

Ia menutup pintu. Memberikan makanan kepada rusanya untuk terakhir kali. Ia mengusap rusanya pelan. “Baik-baik sajalah di sini. Aku akan pergi. Kalau kau mau, kau boleh memakan apapun di sekitar rumah.”

Annastasia kemudian berjalan ke arah barat. Ia tahu jika Moskwa sangatlah jauh dari Oymyakon. Ia tidak tahu jika ia bisa saja mati kelaparan di tengah jalan. Ia menunggang kuda liar yang ia temukan di hutan. Karena didikan ayahnya, Annastasia bisa menunggangi kuda itu dengan baik. Bahkan, ia sangat baik dalam menunggang kuda lebih baik dari orang-orang di kotanya.

Annastasia menunggangi kuda dan berhasil keluar di kota paling dingin di Uni Soviet. Kala itu musim dingin. Kota-kota juga tertutup salju meskipun tidak separah di Oymyakon. Setidaknya ia masih bisa melihat dengan jelas. Ia juga sesekali berhenti. Memberi makan dan minuman kuda liar tersebut,

Annastasia sudah berkelana jauh. Oymyakon sudah tertinggal jauh di sana. Sudah berhari-hari ia menunggangi kuda liar tersebut. Meskipun sesekali kuda liar itu meringkik keras. Tidak mau jalan. Sesekali juga Annastasia tidur di atas kuda. Tidur di bawah pohon.

Baru seminggu Annastasia pergi. Ia melihat perbekalannya. Ia meringis, melihat makanan yang ia bawa tinggal sedikit. Apalagi ia harus memberi makan kuda liar itu rerumputan atau dia akan meringik kembali. Ia menoleh ke segala arah. Ia tidak membawa peta. Ia juga tidak tahu apapun tentang kota ini. Hanya hamparan tanah yang ditutupi salju tipis dengan bekas-bekas rumah kosong. Sepertinya kota ini adalah bekas peperangan dahulu.

Ia memegangi perutnya yang keroncongan. Sakit. Bisa jadi, Annastasia akan pingsan di tengah jalan tanpa ada seorang pun yang menolong. Ia memutuskan untuk berjalan. Ia tidak menunggangi kuda. Takut jika kuda liar itu larinya tidak kencang karena belum dikasih makan. Annastasia menuntun kuda tersebut.

Baru beberapa langkah Annastasia berjalan, ia jatuh tersungkur dengan wajah yang terlebih dahulu menyentuh tanah. Ia sangat lemas. Annastasia mengambil tindakan buruk. Ia terpaksa tidak makan. Mengingat bekalnya hanyalah sepotong roti gandum. Ia tidak bisa memakannya. Jika ia memakannya, sudah pasti roti gandum itu akan langsung dihabiskannya dalam sekejap.

Pandangannya mulai gelap. Annastasia mengerjapkan matanya. Apakah ia harus mati kelaparan di sini? Atau ada seseorang yang akan menyelamatkannya? Bayang-bayang akan ayahnya tiba-tiba muncul. Ia teringat saat ayahnya memberikan novel karangan penulis terkenal era Uni Soviet dulu. Crime and Punishment. Novel itu sangat menarik. Di mana jika seseorang melakukan kejahatan, harus mendapatkan hukuman. Ayahnya sering menceritakan begitu. Entah mengapa, meskipun ayahnya telah meninggalkannya lama, ia yakin jika ayahnya masih hidup di suatu tempat.

“Hei, nona! Jangan pingsan di sini.” Suara itu terdengar sumbang di telinga Annastasia. Namun, cukup membuat ia sedikit tersadar. Ia membuka matanya pelan-pelan. Nampak seorang pria yang berpakaian rapi dengan sepatu bot yang setinggi lutut.

“Nona? Bangunlah!” katanya.

Annastasia mencoba bangkit. Terduduk lesu. Pria yang ada di hadapannya itu mensejajarkan padanya.

“Nona? Apa kau mau makanan?” Pria itu menawarkan makanan kepadanya. Sebuah roti dengan isi daging. Annastasia menelan ludah. Ia sudah lama tidak makan daging. Ia lantas mengambil roti itu dari tangan pria. Memakannya sampai habis.

Pria yang ada di hadapannya itu tersenyum melihat tingkah aneh Annastasia. “Namaku Grisha Markovic. Panggil saja aku Grisha. Namamu siapa?”

Annastasia terdiam sebentar. “Annastasia Lyubov.”

Grisha itu memperbaiki mengusah pakaiannya dari salju yang turun. “Oh, Annastasia! Kau dari mana? Dan, kenapa kau membawa kuda?”

“Aku dari kota Oymyakon. Aku keluar kota dan ingin pergi ke Moskwa.”

Mata Grisha melebar. “Oymyakon? Astaga! Itu adalah kota yang paling dingin di Uni Soviet. Dan kau mau ke Moskwa? Itu sangat jauh sekali, Annastasia.”

Annastasia hanya terdiam. “Aku ingin ke sana.”

“Baiklah, Annastasia.” Grisha langsung berdiri. Annastasia mengangkat wajahnya. Sebuah kuda hitam. “Kebetulan aku juga mau ke sana. Kau bisa ikut denganku.”

Annastasia berpikir sebentar. “Bagaimana dengan kudaku? Ia belum sama sekali kukasih makan.”

“Kudamu? Tinggal saja dia, Annastasia. Kau bisa ikut denganku dengan naik di belakang. Semua akan baik-baik saja, Annastasia. Aku tahu jalan ke Moskwa.”

Mendengar ucapan Grisha, membuat Annastasia sedikit menurut. Ia menaiki kuda hitam milik Grisha. Berpegang erat. Grisha tersenyum senang. “Baiklah, Annastasia. Pegangan yang erat. Karena kuda ini akan melaju kencang.”

Tanpa memakan waktu lama, kuda yang ditunggangi Grisha dan Annastasia melaju kencang secepat mobil. Annastasia menoleh ke belakang. Kuda liar yang ia pungut sudah tertinggal jauh. Meringkik keras. Dan pada akhirnya, petualangan Annastasia ditemani oleh Grisha. Pemuda berpakaian rapi yang kira-kira umurnya lebih tua darinya namun tidak terpaut jauh. Di dalam hatinya, Annastasia berterima kasih kepada Grisha karena membantunya. Mengingat ia hampir pingsan karena kelaparan. Setidaknya dengan adanya Grisha, Annastasia bisa ke Moskwa dengan cepat.

Sudah hampir lima jam kuda itu berjalan. Tentu kuda itu sudah lelah. Mereka berdua turun dan mendapati rumah kosong tanpa penghuni. Grisha memeriksa rumah itu sebelum Annastasia masuk. Grisha tersenyum senang karena rumah kosong itu dapat dijadikan tempat istirahat.

Grisha langsung membuat api. Annastasia melepas jaket tebal yang ia kenakan. Basah. Ia belum melepas jaketnya sama sekali. Ia memakai baju lengan panjang dengan rok panjang lalu meletakkan jaketnya ke perapian. Ia melihat Grisha yang tetap berpakaian rapi meskipun sedang beristirahat sambil menghangatkan tubuh.

Karena baru pertama kali berkenalan, mereka sedikit canggung. Hanya hembusan nafas yang terdengar. Merasa bosan, Annastasia mengambil novel favoritnya lalu membacanya dengan cahaya api. Grisha menoleh ke arah Annastasia yang sangat serius membaca novel. Ia tersenyum senang melihat judulnya.

“Kau suka karya Fyodor, ya?” katanya.

Annastasia hanya terdiam. Ia sama sekali tidak tertarik untuk menjawab pertanyaan Grisha. Ia fokus ke novelnya. Grisha yang melihatnya mendengus pelan. Gadis yang baru ditemuinya sangat dingin. Tapi kalau dilihat secara seksama, Annastasia cukup cantik dengan rambut coklat yang terurai panjang dengan mata yang berwarna abu-abu. Grisha mengamatinya cukup lama hingga Annastasia menoleh ke arahnya. Membuyarkan tatapannya.

“Kau untuk apa pergi ke Moskwa?” tanya Annastasia.

“Untuk bertemu ayahku. Aku sebenarnya ditugaskan di suatu daerah. Saat jalan pulang, aku menemukanmu dan mengajakmu ikut bersamaku ke Moskwa.”

Annastasia sedikit tersenyum. “Terima kasih. Kau sangat baik.”

Annastasia kembali fokus ke novelnya. Crime and Punishment. Di mana seseorang melakukan sebuah kejahatan, maka ia harus mendapatkan hukuman. Karya terbaik dari pengarang terkenal Fyodor Dostoyevsky.

“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama,” kata Grisha, “kenapa kau suka novel itu?”

Annastasia menoleh ke arah Grisha. “Novel ini?” katanya sambil menunjukkan judul bukulnya. “Aku suka sekali karena ini pemberian ayahku. Kata-kata yang digunakan sangat bagus. Ayahku selalu menjelaskan maksud dari novel ini. Di mana seseorang melakukan kejahatan, maka ia harus mendapat hukuman. Begitulah.”

Grisha hanya bergumam pendek. “Crime and Punishment.” Ia mengatakannya hampir sama dengan yang dikatakan Annastasia. Grisha menguap lebar-lebar. “Ah, Annastasia. Aku mulai mengantuk. Apa kau tidak tidur?” tanya Grisha.

Annastasia menggeleng pelan. Ia sama sekali belum mengantuk.

“Baiklah, kalau begitu. Aku mau tidur dulu. Keluargaku besok.” Grisha membaringkan tubuhnya. Ia langsung tertidur pulas.

Annastasia tidak bisa dengan tenang membaca novel sekarang. Mendengar tujuan Grisha datang ke Moskwa, hanya untuk bertemu keluarganya. Apakah ia bisa bertemu ayahnya? Bisakah ia bertemu salah satu keluarga yang ia punya? Malam itu, Annastasia tidak bisa menikmati novelnya. Ada dua perasaan muncul di dalam hatinya. Pertama, ia percaya jika ayahnya masih hidup. Kedua, ia mulai menyadari jika ia amat mengagumi Grisha.

*

Pagi harinya, mereka berdua sedikit terlambat. Grisha membangunkan Annastasia. Kemungkinan, Annastasia tidur larut malam. Annastasia langsung kaget menyadari jika ia bangun agak telat. Seperti biasa, Grisha sudah berpakaian rapi seperti biasanya. Grisha juga memperingatkan Annastasia harus memakai jaket tebal. Karena prediksi Moskwa akan turun salju lebat. Ia juga memberikan sebuah pistol colt yang seharusnya tidak boleh diberikan kepada siapapun. Grisha memberikannya karena untuk alasan keselamatan. Ia tidak mau jika Annastasia terluka jika bertemu dengan orang-orang jahat di Moskwa.

Untuk pertama kalinya, Annastasia memegangi pistol. Tangannya sempat gemetaran saat memegang pistol. Namun, Grisha meyakinkan Annastasia jika itu sangat penting untuk berjaga-jaga. Mereka berdua bersama-sama naik kuda hitam milik Grisha. Annastasia memegangi pundak Grisha. Kali ini ia merasa nyaman dengan pria yang baru ia temui. Grisha juga mempunyai perasaan yang sama. Ia merasa sangat senang membantu gadis yang hampir pingsan di tengah jalan.

“Oh, iya Annastasia. Jika kau belum menemukan apapun yang kau mau ketika kau sampai ke Moskwa, maukah kau ikut denganku?” tanya Grisha.

Annastasia terdiam sebentar. Ia tahu maksud dari ucapan Grisha. Ia mengangguk pelan. “Ya. Aku akan ikut denganmu.”

Grisha tersenyum lebar. “Baiklah kalau begitu. Pegangan yang erat. Karena kuda hitam ini akan melesat secepat mobil.”

Annastasia sedikit tergelak. Ia belum memegang pundak Grisha dan kuda sudah melaju dengan kencang. Annastasia sedikit tertawa. Ia hampir saja terjatuh. Namun, ia sangat bangga menemukan pria yang menurutnya˗˗sangat baik. Entah mengapa, ia menemukan kebahagiaan tersendiri saat bersama Grisha.

Setelah dua jam kuda itu berjalan, mereka baru sampai di Moskwa. Grisha memberhentikan kuda hitam miliknya. Ia melepaskannya sembarang ke seseorang. Grisha menoleh ke arah Annastasia. “Kita sudah sampai ke Moskwa. Ayo, akan kuajak kau ke rumahku. Sebelum itu, ada seseorang yang harus ku temui.”

Annastasia mengangkat alisnya sebelah. “Seseorang?”

“Iya. Aku bekerja di bagian kemiliteran. Aku bertugas menyelidiki tempat-tempat yang rusak akibat perang dan aku harus melaporkannya sekarang.”

Annastasia hanya menurut. Grisha menarik tangan Annastasia. Mengajak gadis itu untuk berkeliling sambil menemui seseorang.

Untuk pertama kalinya, Annastasia datang ke Moskwa, ibu kota Uni Soviet. Ia melihat jalanan Moskwa yang tertutup salju tipis. Beberapa orang berlalu lalang dengan pakaian tebal meskipun tidak setebal orang-orang yang berada di Oymyakon. Ia melihat tangan Grisha yang menggenggam tangannya. Begitu besar dan hangat.  Tangan hangat itu menggenggam tangan Annastasia yang kedinginan sejak tadi. Bahkan tangannya hampir membeku.

Beberapa menit kemudia, kedua telah sampai di bangunan dengan gaya eropa yang sangat mewah. Menjulang tinggi. Bangunan itu tetap mewah meskipun salju putih sedikit menutupi ornament bangunan itu. “Lewat sini, Annastasia.”

Annastasia mengikuti Grisha dari belakang. Ia mengikuti punggung Grisha. Ia juga penasaran, siapakah orang yang akan ditemui Grisha. Apakah kekasihnya? Annastasia tidak terlalu mengerti jika Grisha mempunyai kekasih. Mungkin, Grisha akan bertemu dengan bosnya.

Mereka telah sampai di depan pintu kayu berwarna coklat. Grisha membuka pintu itu dengan pelan. Nampaklah seorang pria dewasa bersama dengan seorang wanita berpakaian ala eropa sedang berpelukan. Grisha yang melihatnya sedikit canggung. Namun, Annastasia merasa tidak asing dengan apa yang dilihatnya. Ia melongo. Matanya melebar, mengenali siapa pria yang ada di hadapannya. Dialah ayah Annastasia. Antonio Lyubov.

Grisha menoleh ke arah Annastasia. “Kenapa? Oh, itulah orang yang akan kutemui. Dan wanita yang ada di sampingnya adalah˗˗”

“Cukup!” teriak Annastasia. “Ayah, apakah kau ingat kepadaku?”

Pria dewasa itu menatap Annastasia lama. Ia mengangkat wajahnya. “Apakah itu kau, Annastasia?” tanyanya. “Apa yang kau lakukan di sini, Annastasia?”

Seketika wajah Annastasia menjadi merah padam. “Ayah bertanya mengapa aku di sini? Lalu, apa yang ayah lakukan di Moskwa? Siapa wanita itu?”

Antonio melepaskan pelukannya. Ia menghela nafas sebentar. “Maafkan ayah, Annastasia. Kami sudah bertemu sebelum aku bertemu dengan ibumu. Maafkan aku, Annastasia.”

Semua sudah jelas. Apa yang dipikirkan Annastasia sekarang sudah jelas. Ia tahu sekarang. Alasan ayahnya yang berburu lalu meninggal adalah kedok semata untuk meninggalkan Annastasia dan ibunya sendirian dan pergi bersama wanita impiannya. Juga ibunya, yang bunuh diri karena mengetahui kabar jika Antonio sudah memiliki keluarga sebelum mereka bertemu. Semuanya sudah jelas. Jika Antonio melakukan kejahatan terbesar dalam hidupnya. Yaitu bertemu dengan wanita lain, berbohong kepada Annastasia, dan membuat ibu Annastasia˗˗Irene Lyubov bunuh diri.

Tiba-tiba, ia teringat novel pemberian ayahnya. Crime and Punishment. Di mana seseorang melakukan kejahatan, maka seseorang itu harus mendapatkan hukuman. Annastasia mengeluarkan pistol colt pemberian Grisha. Menodongkan pisau itu tepat ke arah ayahnya. Dengan kebencian yang memenuhi hatinya, ia tidak gemetaran ketika memegang pistol.

Dulu, ia sangat berharap jika ayahnya masih hidup. Kini, ia merubah pikiran tersebut. Ia berharap, jika ayahnya sudah mati saat itu juga. Kebencian menutup hatinya. Crime and Punishment. Saat ini, ia bersiap menghukum ayahnya.

Grisha yang ada di sampingnya menarik Annastasia ke belakang. Annastasia yang bersiap menembak, terganggu oleh Grisha. Grisha menekuk bibirnya. “Aku mohon Annastasia. Sadarlah. Janganlah kau menghukumnya. Kau berjanji akan ikut denganku bukan? Hentikanlah!”

Annastasia tetap tidak bergeming. Ia masih bisa menodongkan pisau ke arah Antonio. Ia berusaha memberontak dalam dekapan Grisha.

“Aku mohon Annastasia. Hentikanlah! Baiklah, bisakah kau turunkan pistolmu? Aku berjanji, akan menghukumnya. Aku berjanji, Annastasia.”

Seketika Annastasia terdiam. Ia dapat mendengarkan apa yang dikatakan Grisha. Ia menurunkan pistolnya. Tapi, ia masih benci kepada ayahnya yang menyembunyikan semuanya. Ia berniat menghukumnya. Tapi, Grisha berjanji akan membalasnya. Annastasia mengikuti kata Grisha. Menyimpan pistol itu di bali baju.

“Annastasia, bisakah kau tunggu di luar? Aku berjanji, akan menghukumnya. Apapun itu. Bisa jadi, dia tidak salah, Annastasia.”

Annastasia menuruti kata Grisha. Dengan hati yang masih dipenuhi rasa kebencian terhadap Antonio, ia meninggalkan ruangan dan menunggu sebuah kebenaran.

*

Saat itu, Grisha merasa terpukul ketika melihat Annastasia kabur. Annastasia menghilang entah ke mana. Ia mencari gadis yang ia sayangi di mana-mana. Grisha menceritakan kebenaran kepadanya dan Annastasia berlari dengan seluruh kekesalannya.

Saat itu juga, Grisha berdiri di pinggir jembatan Moskwa. Annastasia menghilang. Grisha sudah putus harapan. Ia menghembuskan nafasnya. Menengok ke bawah sungai di bawah jembatan itu. Permukaan air sungai yang membeku karena musim dingin. Jika seseorang berenang di sana, sudah pasti ia akan mati kedinginan. Itulah yang dipikirkan oleh Grisha.

Grisha masih mengenang gadis itu. Berharap, Annastasia dapat memafkannya. “Maafkan aku, Annastasia. Aku tidak bisa menghukumnya. Aku lah yang berbuat kejahatan,” katanya lirih.

Crime and Punishment. Judul buku yang selalu dibaca Annastasia. “Maafkan aku, Annastasia. Takdir memang begitu kejam. Seandainya aku tak ditugaskan ke daerah itu. Seandainya aku tak menolongmu waktu pingsan. Seandainya aku tak mengajakmu pergi ke Moskwa. Seandainya aku tak mengajakmu untuk menemui seseorang. Seandainya aku tak memiliki perasaan itu.” Grisha menghentikan perkataannya. Ia menghela nafas panjang. “Seandainya aku tak bertemu adik perempuanku.”

Grisha berdiri di pinggir jembatan. Menatap permukaan air sungai yang diselimuti es tipis. Ia menghembuskan nafas panjang. Bersiap untuh melakukan semuanya. “Annastasia,” katanya lirih. “Aku akan menghukum diriku sendiri.”

Grisha melompat ke sungai yang dingin tersebut. Ia menghukum dirinya sendiri. Esoknya, warga Moskwa menemukan mayat Grisha mengambang di sungai dan Annastasia menghilang entah ke mana.

Senin, 20 Juni 2016

Pesan Sang Ayah



SUATU hari, gadis remaja berkacamata yang masih duduk di sekolah menengah pertama bernama Aya menyalami ayahnya. Ayahnya selalu mengantarkan Aya ke sekolah. Selalu. Setiap kali ia turun dari kendaraan sang ayah, Aya menyalami ayahnya. Rutinitas itu selalu ia lakukan setiap pagi saat berangkat sekolah. 

Sang ayah-lah yang merawat dan membesarkan Aya. Ibunya telah meninggal karena penyakit kronis. Aya yang saat itu masih berumur lima tahun, menangis sekencang-kencangnya. Hanya ayah yang satu-satunya ia punya. Sang ayah pun juga menyanyangi anaknya. Berharap, ia bisa berumur panjang dan menyaksikan anaknya bahagia.

Sang ayah, sudah berumur sekitar 45 tahun. Ia mengajar sebagai guru di sekolah lain. Seperti orang tua pada umumnya, ia selalu memberi nasihat kepada anaknya. Bagaikan seorang guru yang memberikan pelajaran kepada muridnya. Sang ayah juga masih kuat mengantar anaknya ke sekolah dengan motor yang asapnya sudah memutih dan menyumbang polusi udara di kota. Ia tetap tegar. Hanya itu yang ia bisa lakukan selagi raga masih kuat.

Aya adalah gadis biasa. Dari keluarga biasa. Ia juga mempunyai wajah yang polos, namun cantik. Disaat semua anak gadis meminta bedak kepada ibunya, Aya hanya bisa melihat. Ia tidak punya niatan untuk meminta bedak ataupun alat untuk mempercantik penampilan seperti remaja sekarang. Ia juga tidak meminta ayahnya untuk membeli shampoo yang mahal agar rambutnya bisa lembut dan selurus teman-teman yang lain.
Aya cukup berprestasi di sekolah. Dia memang pandai. Teman-temannya selalu meminta Aya untuk membantu memudahkan pelajaran. Bertanya apabila ada bagian yang belum paham.

Masalahnya sekarang, Aya sudah kelas 3. Sebentar lagi ia akan menempuh ujian nasional. Ujian di mana semua siswa kelas 3 baik SD, SMP, ataupun SMA dijadikan bahan percobaannya menghadapi ujian tersebut. Menakutkan. Banyak orang yang bilang seperti itu. Tapi itu hanyalah dulu. Dulu, kelulusan tergantung pada nilai ujian nasional. Masalahnya, banyak hal yang sangat menakutkan saat ujian. Mulai dari jumlah soal yang berbeda, lembar ujian jawaban yang rusak, bahkan yang lebih menyeramkan lagi, pada ujian nasional berbasis komputer, koneksi internet yang lemot dapat menjadi kendala. Sekarang, kelulusan tergantung pada sekolah masing-masing. Pihak sekolah berhak meluluskan siswanya. Tapi tetap saja, nilai ujian nasional masih dianggap penting untuk mendaftar sekolah.

Sebenarnya, bukan hal itu yang ditakutkan oleh Aya. Bukan ia takut menghadapi ujian nasional mendatang, atau takut terjadi kendala saat ujian berlangsung. Yang ia takutkan hanyalah ia takut mencontek.

Seperti yang kita ketahui, setiap sekolah memiliki rahasia. Untuk membuat para muridnya memiliki nilai yang bagus, para siswa diharuskan untu berbuat “Curang” agar nilai ujian nasional baik. Biasanya, setiap sekolah akan menjaga rahasia ini baik-baik dan jangan sampai bocor ke sekolah lain. Sebelum ujian, biasanya para guru akan memanggil ketua ruangan untuk berkumpul dan menjelaskan cara “Curang” yang biasanya dilakukan saat ujian. Entah itu memberi kunci jawaban atau bertanya jawaban dengan teman.

Semua sekolah pasti ada yang melegalkan hal yang seharusnya tidak dilegalkan. Seperti Negara ini, tidak lepas dari perbuatan curang. Apalagi mereka adalah bibit-bibit muda yang akan mengemban bangsa ini. Masalahnya, guru yang biasanya memberikan contoh yang baik, malah melegalkannya.

Jadi, inilah yang Aya takutkan. Dia mungkin adalah satu dari sekian siswa di negeri ini yang masih mengemban sistem jujur. Cukup berat memang untuk mengemban sifat jujur di masa yang tergolong “Gila” ini.

Aya memang gadis yang polos. Ia selalu gemetar ketika melihat temannya yang melihat berbuat curang apalagi jika ia dituntut untuk berbuat curang, ia sama sekali tidak bisa. Ia akan menghindar dan tidak mau mendengarkan.

Masalahnya, sekolah Aya adalah salah satu dari sekian sekolah yang akan menerapkan cara “Curang” saat ujian nanti. Aya sudah pernah mendengarnya dari kakak kelasnya yang sudah lulus, jika guru akan memberikan masing-masing kunci jawaban. Namun, jangan sampai ketahuan oleh pengawas ataupun membocorkan rahasia ini kepada sekolah lain.

Aya hanya diam. Beberapa hari, ia dipikirkan oleh soal itu. Rasa gemetar jika ia harus dituntut untuk melakukan hal itu. Apakah ia harus melakukan kejahatan? Baginya, hal itu adalah kejahatan. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolahnya, atau tetap teguh pendirian?

Aya teringat akan nasihat ayahnya, yang selalu mengatakan untuk berlaku jujur dan tidak pernah berbuat curang. Ayahnya selalu mengatakan hal itu bahkan selalu mendongeng tentang kejujuran. Entah ayahnya melakukan kejujuran atau tidak, namanya seorang ayah, selalu mencontohkan perilaku yang baik pada anaknya.

Saat itu, ujian sudah semakin dekat. Hati Aya masih gemetar. Bingung untuk memilih. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolah dengan jaminan bahwa nilainya akan bagus, atauia harus mematuhi nasihat sang ayah sewaktu kecil. Ia menggenggam tangannya erat. Ia tidak berani untuk menceritakan kebimbangan hatinya kepada ayahnya. Terlalu takut untuk dicap sebagai anak durhaka.

Maka, dengan hati yang masih bimbang dan tangan gemetar, ia membulatkan tekad untuk menceritakan sebuah rahasia kecil yang seharusnya tidak diceritakan kepada ayahnya.

Aya membuka pintu pelan. Nampak ayahnya duduk bersandar sambil memejamkan mata. Mendengar pintu dibuka, mata sang ayah terbuka. Ia melihat anak gadisnya berdiri dengan wajah yang agak muram. Sang ayah bertanya, “Mengapa wajahmu terlihat muram, nak?”

Aya mulai mendekat perlahan. Duduk dengan pelan agar sejajar dengan ayahnya. Ia tiba-tiba menunduk dalam-dalam. Kepalanya menyentuh lantai marmer. Ia terbatuk pelan. Lebih tepatnya, air matanya menetes. “Ayah, maafkan aku.”

Sang ayah kembali bertanya. “Apa maksudmu, nak? Aku benar-benar tidak mengerti. Katakan saja padaku. Aku tidak akan marah.”

Aya mengangkat kepalanya. Menatap wajah ayahnya. Ia masih berlinangan air mata. “Ayah,” katanya pelan, “maafkan aku karena besok aku akan berbuat curang.”

Ruangan lenggang seketika. Hanya menyisakan helaan nafas dari ayah dan anaknya.

Sang ayah mengusap rambut anaknya pelan. Ia tersenyum simpul. “Aku sudah tahu jika kau akan mengatakan hal itu. Sebagai guru, aku sudah mengetahuinya sejak dulu trik semacam itu.”

Gadis itu mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya.

“Aku juga sudah menjadi pengawas ruangan di berbagai sekolah. Yang kutemui juga sama. Sebuah kecurangan. Sama seperti sekolahmu. Mungkin, itu adalah sudah menjadi rahasia umum warga negara ini yang lebih mementingkan nilai daripada kejujuran. Mereka terlalu takut jika anak muridnya tidak mempunyai masa depan. Tapi bukanlah  nilai yang tinggi yang membuat masa depan baik.”

Sang ayah memegangi pipi anaknya. Mengusap pelan bulir-bulir air mata yang masih jatuh. Lantas tersenyum dengan wajah yang menyenangkan. “Jujurlah, nak. Aku ingin anak ayah menjadi orang yang jujur. Jangan mudah terpengaruh oleh orang di sekitarmu. Jangan takut nilaimu akan turun karena kau tidak mengindahkan peraturan sekolah. Ketahuilah, nak. Kejujuran akan berbuah baik. Karena kejujuran selalu mengikutimu kemanapun kau berada.”

Aya sedikit tersenyum memegang tangan ayahnya yang sudah mulai tua. “Terima kasih sudah meyakinkanku.”

Sang ayah tersenyum simpul. “Sekarang, kau harus belajar. Ujian sudah dimulai besok. Persiapkan dirimu dan jangan lupa berdoa. Dan ingatlah pesan ayah tadi. Kejujuran.”

Aya mulai sedikit lega akibat semangat ayahnya. Malam harinya, belajar dan berdoa supaya diberi kemudahan. Menyiapkan semua yang dibutuhkan saat ujian termasuk juga nasihat ayahnya.

Apa yang dikatakan ayahnya, membuat Aya benar-benar lega. Saat ujian, ia tidak mempedulikan keadaan sekitar dan terus mengerjakan soal. Ia tetap fokus meskipun banyak tawaran teman-temannya di sana-sini. Bahkan, ia menolak menerima secarik kertas kecilyang berisi sebuah angka dan huruf. Ia tetap tenang. Nasihat ayahnya selalu ia gunakan. Apapun hal itu, ia masih mengingatnya. Mengingat wajah bijak ayahnya, ia tak berani membohonginya. Hanyalah ayah-lah yang ia punya saat ini.

Selepas empat hari ujian, Aya benar-benar menyerahkan dirinya. Ia tetap berdoa. Ayahnya tak berhenti memberikan nasihat kepadanya ataupun sekedar bercerita setiap sore di bawah pohon yang rindang. Sesekali ia menceritakan kepada ayahnya bahwa ia menaati nasihat ayahnya.

Sang ayah tersenyum seperti biasanya. Mengusap rambut Aya dengan lembut. “Itu baru anakku.”

Setelah beberapa minggu menunggu, tibalah saat yang mendebarkan bagi seluruh siswa SMP. Begitu juga dengan Aya. Sebelumnya, ayahnya meyakinkan kepadanya untuk selalu menerima apapun yang kita dapat. Sang ayah mengatakan kepada Aya untuk menerima nilainya jika rendah dan tetap bersyukur jika menerima nilai yang tinggi.

Di sekolah, Aya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia sudah berpikir jika ujian nasional tahun ini lebih sulit dari ujian nasional sebelumnya. Mengingat, ada soal yang tidak sesuai kisi-kisi malah keluar atau soal yang harusnya ada di kisi-kisi tetapi tidak keluar dalam soal ujian nasional. Mengingat ia tidak menerima kunci jawaban yang sudah disebarkan dan memilih diam.

Aya kembali meyakinkan hatinya. Tidak boleh terpengaruh oleh pikiran-pikiran. Kejujuran dan menerima. Itulah hal yang diajarkan dari ayahnya.

Kertas-kertas berisi nilai ujian nasional mulai dipasang di papan pengumuman sekolah. Seluruh murid berkumpul menjadi satu di depan papan pengumuman. Aya berdesak-desakkan di antara murid-murid yang ingin melihat nilai. Sebenarnya Aya belum melihat nilainya, tapi melihat wajah teman-temannya yang sudah melihatnya, terlihat murung. Aya mulai berpikir, jika nilainya jauh lebih rendah dari teman-temannya.

Saat murid sudah mulai sedikit menyingkir, Aya menerobos di antara murid-murid. Melihat papan pengumuman satu-satu. Mata Aya tiba-tiba melebar. Ia berdiri mematung. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mendapatkan nilai tinggi di antara teman-temannya bahkan menjadi nilai tertinggi di sekolahnya.

Aya mendapatkan danem 37,5. Termasuk danem yang tinggi. Ia merasa senang sekali. Ia tidak menyangka ia akan mendapatkan nilai yang sangat bagus. Ia dulunya banyak berpikir buruk jika ia akan mendapatkan nilai yang jelek. Ia benar-benar merasa senang.

Aya masih mengingat pesan ayahnya. “Menerima dan bersyukur.” Ia sangat bersyukur dan tetap tidak sombong. Ia sekarang percaya dengan nasihat ayahnya. Tentang kejujuran. Ia akan tetap melakukan kejujuran di mana pun. Karena kejujuran selalu berbuah baik. Kejujuran tidak akan mengecewakanmu dan selalu mengikutimu di mana pun kau berada.

Aya tersenyum bangga. “Terima kasih, ayah. Nasihatmu sungguh berarti buatku.”