Hujan mengguyur kota ini begitu derasnya.
Aku terpaksa mampir di salah satu kafe terdekat dari tempat
kerjaku. Aku memesan sebuah cappuccino hangat untuk menghangatkan
tubuhku yang sedikit basah karena terkena air hujan. Sesekali, kubuka layar
ponselku. Keningku berkerut samar melihat beberapa pesan yang masuk dari
ponselku. Semuanya berisi tentang pekerjaan.
Hujan mengguyur kota ini begitu derasnya.
Ah, mungkin aku akan pulang terlambat hari ini. Mataku menerawang
bebas ke arah jendela. Lebih tepatnya, melihat tetesan hujan yang turun dari
langit. Entah mengapa pikiranku melayang jauh, memikirkan kejadian yang pernah
aku alami sewaktu hujan. Aku melamun beberapa saat hingga secangkir cappuccino
yang telah kupesan datang.
Aku menyesap cappuccino yang kupesan dan berusahan untuk
menghilangkan pikiran-pikiran negative. Uh, cappuccino ini membuat
tubuhku hangat.
Soal kejadian saat hujan, sebenarnya aku sangat takut untuk pulang
sendiri. Apalagi disaat hujan begini. Aku benar-benar takut saat melewati
sebuah gang gelap menuju jalan rumahku. Apalagi, aku pernah bertemu sesosok “itu”
saat hujan mengguyur. Aku yang membawa paying, berlari ketakutan dan
melemparkan payungku ke sembarang tempat. Mataku menerawang jendela kaca besar
kafe. Ya Tuhan! Sungguh aku benar-benar takut!
Apa yang terjadi jika aku melewati gang tersebut, sesosok itu
muncul? Seingatku, sosok itu jelas. Hanya bayang-bayang yang terlihat oleh
mataku.
Aku segera menghapus pikiran negatifku. Aku memutuskan untuk segera
pulang. Aku juga sudah membawa paying karena prediksi cuaca hari ini tidak
menentu.
Sebelum itu, aku membayar cappuccino hangatku dan˗˗ aku
memesan sebuah sandwich untuk aku bawa pulang. Aku mengeluarkan uang
dari dompetku dan menyerahkannya kepada kasir. Sandwich yang telah aku
pesan sudah berada di tanganku sekarang dan aku sudah bersiap-siap pulang.
Kubuka payungku, tepat saat aku keluar dari kafe tersebut. Hujan nampak
mulai reda dan aku pun berjalan dengan hati-hati. Maksudku, aku harus
berhati-hati terkena cipratan air yang biasanya dilakukan oleh kendaraan besar.
Bisa jadi, bajuku kotor dan tidak bisa dicuci.
Sejauh ini, aman-aman saja. Aku melangkah dengan percaya diri
menuju jalan pulang. Aku berjalan ditengah-tengah hujan lebat. Tak terasa,
langkahku mulai mendekat ke gang gelap yang ada di ujung.
Aku menelan ludah. Kurasakan tanganku gemetar saat memegang
payungku. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.
Sekarang, aku melewati gang gelap itu. Dalam hati, aku berdoa agar
aku selamat sampai tujuan. Aku menatap lurus. Ya Tuhan, gang ini sungguh gelap!
Ini seperti tempat untuk uji nyali. Aku juga melihat kucing hitam yang melintas
di depan. Pikiranku langsung kacau dan dipenuhi oleh pikiran buruk. Tidak. Kau harus
berani. Itu hanyalah kucing. Itu hanyalah mitos.
Tap tap tap
Aku mendengar suara langkah kaki yang berada di belakang. Suara itu
semakin jelas terdengar. Aku tidak berani untuk melihat kebelakang. Kuputuskan untuk
mempercepat langkahku. Tetapi, langkah kaki itu malah semakin keras. Seperti sedang
mengejar diriku. Aku mempercepat langkahku sekali lagi. Berusaha keluar dari
gang gelap itu secepat mungkin. Suara itu semakin mendekat, mendekat, mendekat
dan˗˗˗
“Arghhhhh!!!” aku berteriak kencang saat sosok yang berada
dibelakangku memegang leherku. Aku memejamkan mataku. Tubuhku bergetar. Jari-jari
sesosok itu sangat dingin. Membuatku semakin bergetar. Mau tidak mau, aku harus
menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang mencengkram leherku.
Kutengok ke belakang, aku terkejut bukan main. Seorang kakek tua dengan
tubuh kurus dan memmiliki luka goresan di pipinya. Aku memegang dadaku. Jantungku
berdegup kencang. Kucoba membuka mulutku. “Si-siapa kau?”
Kakek tua itu terdiam beberapa saat. Ia kemudian mengangkat
telunjukknya. Menunjuk kea rah bungkusan sandwich yang kupegang. “Aku
lapar. Sudah beberapa hari, aku tidak makan. Bolehkan kau beri aku makanan?”
ujar kakek tua itu.
Aku berpikir sejenak. Jika sandwich ini aku berikan, aku akan tidak
makan mala mini. Jika aku berikan˗˗ bagaimana ya? Ku coba menanyakannya kepada
kakek tua itu. “Aku akan memberikan makanan ini padaku. Tapi, apakah kau harus
berjanji tidak akan mengangguku selama aku melewati gang ini”
Kakek tua itu mengangguk. “Aku berjanji. Aku akan tidak menganggumu”
Kuberikan bungkusan yang berisi sandwich kepada kakek tua
itu. Kakek tua itu menerimanya sambil tersenyum. Tanpa ucapan terima kasih, ia
langsung berlari menjauh dariku. Aku memandangnya cukup aneh.
Tapi, aku tak
memperdulikan hal itu. Yang penting, dia tidak akan mengangguku kedepannya.
Aku melangkah keluar dari gang gelap itu. Entah mengapa, beban di
hatiku menghilang. Aku semakim percaya diri dan tidak takut lagi untuk melewati
gang gelap tersebut.
Sesampainya di rumah, aku mengeluarkan sebuah kunci dari tasku. Sebelum
aku memasukkan kunci ke lubangnya, aku melihat kertas putih yang ditempatkan di
bawah pintu. Aku mengambilnya dan membacanya. “TERIMA KASIH” aku cukup terkejut
dengan tulisan tersebut karena tulisan tersebut ditulis menggunakan darah.
Aku langsung memutar kunci dan masuk kedalam rumah. Suatu saat, aku akan mengambil jalan lain dan tidak akan pernah melewati gang gelap itu kembali.