Kamis, 24 Maret 2016

Sepotong Sandwich



Hujan mengguyur kota ini begitu derasnya. 

Aku terpaksa mampir di salah satu kafe terdekat dari tempat kerjaku. Aku memesan sebuah cappuccino hangat untuk menghangatkan tubuhku yang sedikit basah karena terkena air hujan. Sesekali, kubuka layar ponselku. Keningku berkerut samar melihat beberapa pesan yang masuk dari ponselku. Semuanya berisi tentang pekerjaan.

Hujan mengguyur kota ini begitu derasnya. 

Ah, mungkin aku akan pulang terlambat hari ini. Mataku menerawang bebas ke arah jendela. Lebih tepatnya, melihat tetesan hujan yang turun dari langit. Entah mengapa pikiranku melayang jauh, memikirkan kejadian yang pernah aku alami sewaktu hujan. Aku melamun beberapa saat hingga secangkir cappuccino yang telah kupesan datang.

Aku menyesap cappuccino yang kupesan dan berusahan untuk menghilangkan pikiran-pikiran negative. Uh, cappuccino ini membuat tubuhku hangat.

Soal kejadian saat hujan, sebenarnya aku sangat takut untuk pulang sendiri. Apalagi disaat hujan begini. Aku benar-benar takut saat melewati sebuah gang gelap menuju jalan rumahku. Apalagi, aku pernah bertemu sesosok “itu” saat hujan mengguyur. Aku yang membawa paying, berlari ketakutan dan melemparkan payungku ke sembarang tempat. Mataku menerawang jendela kaca besar kafe. Ya Tuhan! Sungguh aku benar-benar takut!

Apa yang terjadi jika aku melewati gang tersebut, sesosok itu muncul? Seingatku, sosok itu jelas. Hanya bayang-bayang yang terlihat oleh mataku.

Aku segera menghapus pikiran negatifku. Aku memutuskan untuk segera pulang. Aku juga sudah membawa paying karena prediksi cuaca hari ini tidak menentu.

Sebelum itu, aku membayar cappuccino hangatku dan˗˗ aku memesan sebuah sandwich untuk aku bawa pulang. Aku mengeluarkan uang dari dompetku dan menyerahkannya kepada kasir. Sandwich yang telah aku pesan sudah berada di tanganku sekarang dan aku sudah bersiap-siap pulang.

Kubuka payungku, tepat saat aku keluar dari kafe tersebut. Hujan nampak mulai reda dan aku pun berjalan dengan hati-hati. Maksudku, aku harus berhati-hati terkena cipratan air yang biasanya dilakukan oleh kendaraan besar. Bisa jadi, bajuku kotor dan tidak bisa dicuci.

Sejauh ini, aman-aman saja. Aku melangkah dengan percaya diri menuju jalan pulang. Aku berjalan ditengah-tengah hujan lebat. Tak terasa, langkahku mulai mendekat ke gang gelap yang ada di ujung.

Aku menelan ludah. Kurasakan tanganku gemetar saat memegang payungku. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.

Sekarang, aku melewati gang gelap itu. Dalam hati, aku berdoa agar aku selamat sampai tujuan. Aku menatap lurus. Ya Tuhan, gang ini sungguh gelap! Ini seperti tempat untuk uji nyali. Aku juga melihat kucing hitam yang melintas di depan. Pikiranku langsung kacau dan dipenuhi oleh pikiran buruk. Tidak. Kau harus berani. Itu hanyalah kucing. Itu hanyalah mitos.

Tap tap tap

Aku mendengar suara langkah kaki yang berada di belakang. Suara itu semakin jelas terdengar. Aku tidak berani untuk melihat kebelakang. Kuputuskan untuk mempercepat langkahku. Tetapi, langkah kaki itu malah semakin keras. Seperti sedang mengejar diriku. Aku mempercepat langkahku sekali lagi. Berusaha keluar dari gang gelap itu secepat mungkin. Suara itu semakin mendekat, mendekat, mendekat dan˗˗˗


“Arghhhhh!!!” aku berteriak kencang saat sosok yang berada dibelakangku memegang leherku. Aku memejamkan mataku. Tubuhku bergetar. Jari-jari sesosok itu sangat dingin. Membuatku semakin bergetar. Mau tidak mau, aku harus menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang mencengkram leherku. 

Kutengok ke belakang, aku terkejut bukan main. Seorang kakek tua dengan tubuh kurus dan memmiliki luka goresan di pipinya. Aku memegang dadaku. Jantungku berdegup kencang. Kucoba membuka mulutku. “Si-siapa kau?”

Kakek tua itu terdiam beberapa saat. Ia kemudian mengangkat telunjukknya. Menunjuk kea rah bungkusan sandwich yang kupegang. “Aku lapar. Sudah beberapa hari, aku tidak makan. Bolehkan kau beri aku makanan?” ujar kakek tua itu.

Aku berpikir sejenak. Jika sandwich ini aku berikan, aku akan tidak makan mala mini. Jika aku berikan˗˗ bagaimana ya? Ku coba menanyakannya kepada kakek tua itu. “Aku akan memberikan makanan ini padaku. Tapi, apakah kau harus berjanji tidak akan mengangguku selama aku melewati gang ini”

Kakek tua itu mengangguk. “Aku berjanji. Aku akan tidak menganggumu”

Kuberikan bungkusan yang berisi sandwich kepada kakek tua itu. Kakek tua itu menerimanya sambil tersenyum. Tanpa ucapan terima kasih, ia langsung berlari menjauh dariku. Aku memandangnya cukup aneh. 

Tapi, aku tak memperdulikan hal itu. Yang penting, dia tidak akan mengangguku kedepannya.

Aku melangkah keluar dari gang gelap itu. Entah mengapa, beban di hatiku menghilang. Aku semakim percaya diri dan tidak takut lagi untuk melewati gang gelap tersebut.

Sesampainya di rumah, aku mengeluarkan sebuah kunci dari tasku. Sebelum aku memasukkan kunci ke lubangnya, aku melihat kertas putih yang ditempatkan di bawah pintu. Aku mengambilnya dan membacanya. “TERIMA KASIH” aku cukup terkejut dengan tulisan tersebut karena tulisan tersebut ditulis menggunakan darah.
 
Aku langsung memutar kunci dan masuk kedalam rumah. Suatu saat, aku akan mengambil jalan lain dan tidak akan pernah melewati gang gelap itu kembali.