Senin, 20 Juni 2016

Pesan Sang Ayah



SUATU hari, gadis remaja berkacamata yang masih duduk di sekolah menengah pertama bernama Aya menyalami ayahnya. Ayahnya selalu mengantarkan Aya ke sekolah. Selalu. Setiap kali ia turun dari kendaraan sang ayah, Aya menyalami ayahnya. Rutinitas itu selalu ia lakukan setiap pagi saat berangkat sekolah. 

Sang ayah-lah yang merawat dan membesarkan Aya. Ibunya telah meninggal karena penyakit kronis. Aya yang saat itu masih berumur lima tahun, menangis sekencang-kencangnya. Hanya ayah yang satu-satunya ia punya. Sang ayah pun juga menyanyangi anaknya. Berharap, ia bisa berumur panjang dan menyaksikan anaknya bahagia.

Sang ayah, sudah berumur sekitar 45 tahun. Ia mengajar sebagai guru di sekolah lain. Seperti orang tua pada umumnya, ia selalu memberi nasihat kepada anaknya. Bagaikan seorang guru yang memberikan pelajaran kepada muridnya. Sang ayah juga masih kuat mengantar anaknya ke sekolah dengan motor yang asapnya sudah memutih dan menyumbang polusi udara di kota. Ia tetap tegar. Hanya itu yang ia bisa lakukan selagi raga masih kuat.

Aya adalah gadis biasa. Dari keluarga biasa. Ia juga mempunyai wajah yang polos, namun cantik. Disaat semua anak gadis meminta bedak kepada ibunya, Aya hanya bisa melihat. Ia tidak punya niatan untuk meminta bedak ataupun alat untuk mempercantik penampilan seperti remaja sekarang. Ia juga tidak meminta ayahnya untuk membeli shampoo yang mahal agar rambutnya bisa lembut dan selurus teman-teman yang lain.
Aya cukup berprestasi di sekolah. Dia memang pandai. Teman-temannya selalu meminta Aya untuk membantu memudahkan pelajaran. Bertanya apabila ada bagian yang belum paham.

Masalahnya sekarang, Aya sudah kelas 3. Sebentar lagi ia akan menempuh ujian nasional. Ujian di mana semua siswa kelas 3 baik SD, SMP, ataupun SMA dijadikan bahan percobaannya menghadapi ujian tersebut. Menakutkan. Banyak orang yang bilang seperti itu. Tapi itu hanyalah dulu. Dulu, kelulusan tergantung pada nilai ujian nasional. Masalahnya, banyak hal yang sangat menakutkan saat ujian. Mulai dari jumlah soal yang berbeda, lembar ujian jawaban yang rusak, bahkan yang lebih menyeramkan lagi, pada ujian nasional berbasis komputer, koneksi internet yang lemot dapat menjadi kendala. Sekarang, kelulusan tergantung pada sekolah masing-masing. Pihak sekolah berhak meluluskan siswanya. Tapi tetap saja, nilai ujian nasional masih dianggap penting untuk mendaftar sekolah.

Sebenarnya, bukan hal itu yang ditakutkan oleh Aya. Bukan ia takut menghadapi ujian nasional mendatang, atau takut terjadi kendala saat ujian berlangsung. Yang ia takutkan hanyalah ia takut mencontek.

Seperti yang kita ketahui, setiap sekolah memiliki rahasia. Untuk membuat para muridnya memiliki nilai yang bagus, para siswa diharuskan untu berbuat “Curang” agar nilai ujian nasional baik. Biasanya, setiap sekolah akan menjaga rahasia ini baik-baik dan jangan sampai bocor ke sekolah lain. Sebelum ujian, biasanya para guru akan memanggil ketua ruangan untuk berkumpul dan menjelaskan cara “Curang” yang biasanya dilakukan saat ujian. Entah itu memberi kunci jawaban atau bertanya jawaban dengan teman.

Semua sekolah pasti ada yang melegalkan hal yang seharusnya tidak dilegalkan. Seperti Negara ini, tidak lepas dari perbuatan curang. Apalagi mereka adalah bibit-bibit muda yang akan mengemban bangsa ini. Masalahnya, guru yang biasanya memberikan contoh yang baik, malah melegalkannya.

Jadi, inilah yang Aya takutkan. Dia mungkin adalah satu dari sekian siswa di negeri ini yang masih mengemban sistem jujur. Cukup berat memang untuk mengemban sifat jujur di masa yang tergolong “Gila” ini.

Aya memang gadis yang polos. Ia selalu gemetar ketika melihat temannya yang melihat berbuat curang apalagi jika ia dituntut untuk berbuat curang, ia sama sekali tidak bisa. Ia akan menghindar dan tidak mau mendengarkan.

Masalahnya, sekolah Aya adalah salah satu dari sekian sekolah yang akan menerapkan cara “Curang” saat ujian nanti. Aya sudah pernah mendengarnya dari kakak kelasnya yang sudah lulus, jika guru akan memberikan masing-masing kunci jawaban. Namun, jangan sampai ketahuan oleh pengawas ataupun membocorkan rahasia ini kepada sekolah lain.

Aya hanya diam. Beberapa hari, ia dipikirkan oleh soal itu. Rasa gemetar jika ia harus dituntut untuk melakukan hal itu. Apakah ia harus melakukan kejahatan? Baginya, hal itu adalah kejahatan. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolahnya, atau tetap teguh pendirian?

Aya teringat akan nasihat ayahnya, yang selalu mengatakan untuk berlaku jujur dan tidak pernah berbuat curang. Ayahnya selalu mengatakan hal itu bahkan selalu mendongeng tentang kejujuran. Entah ayahnya melakukan kejujuran atau tidak, namanya seorang ayah, selalu mencontohkan perilaku yang baik pada anaknya.

Saat itu, ujian sudah semakin dekat. Hati Aya masih gemetar. Bingung untuk memilih. Apakah ia harus mengikuti peraturan sekolah dengan jaminan bahwa nilainya akan bagus, atauia harus mematuhi nasihat sang ayah sewaktu kecil. Ia menggenggam tangannya erat. Ia tidak berani untuk menceritakan kebimbangan hatinya kepada ayahnya. Terlalu takut untuk dicap sebagai anak durhaka.

Maka, dengan hati yang masih bimbang dan tangan gemetar, ia membulatkan tekad untuk menceritakan sebuah rahasia kecil yang seharusnya tidak diceritakan kepada ayahnya.

Aya membuka pintu pelan. Nampak ayahnya duduk bersandar sambil memejamkan mata. Mendengar pintu dibuka, mata sang ayah terbuka. Ia melihat anak gadisnya berdiri dengan wajah yang agak muram. Sang ayah bertanya, “Mengapa wajahmu terlihat muram, nak?”

Aya mulai mendekat perlahan. Duduk dengan pelan agar sejajar dengan ayahnya. Ia tiba-tiba menunduk dalam-dalam. Kepalanya menyentuh lantai marmer. Ia terbatuk pelan. Lebih tepatnya, air matanya menetes. “Ayah, maafkan aku.”

Sang ayah kembali bertanya. “Apa maksudmu, nak? Aku benar-benar tidak mengerti. Katakan saja padaku. Aku tidak akan marah.”

Aya mengangkat kepalanya. Menatap wajah ayahnya. Ia masih berlinangan air mata. “Ayah,” katanya pelan, “maafkan aku karena besok aku akan berbuat curang.”

Ruangan lenggang seketika. Hanya menyisakan helaan nafas dari ayah dan anaknya.

Sang ayah mengusap rambut anaknya pelan. Ia tersenyum simpul. “Aku sudah tahu jika kau akan mengatakan hal itu. Sebagai guru, aku sudah mengetahuinya sejak dulu trik semacam itu.”

Gadis itu mengangkat kepalanya. Mengusap air matanya.

“Aku juga sudah menjadi pengawas ruangan di berbagai sekolah. Yang kutemui juga sama. Sebuah kecurangan. Sama seperti sekolahmu. Mungkin, itu adalah sudah menjadi rahasia umum warga negara ini yang lebih mementingkan nilai daripada kejujuran. Mereka terlalu takut jika anak muridnya tidak mempunyai masa depan. Tapi bukanlah  nilai yang tinggi yang membuat masa depan baik.”

Sang ayah memegangi pipi anaknya. Mengusap pelan bulir-bulir air mata yang masih jatuh. Lantas tersenyum dengan wajah yang menyenangkan. “Jujurlah, nak. Aku ingin anak ayah menjadi orang yang jujur. Jangan mudah terpengaruh oleh orang di sekitarmu. Jangan takut nilaimu akan turun karena kau tidak mengindahkan peraturan sekolah. Ketahuilah, nak. Kejujuran akan berbuah baik. Karena kejujuran selalu mengikutimu kemanapun kau berada.”

Aya sedikit tersenyum memegang tangan ayahnya yang sudah mulai tua. “Terima kasih sudah meyakinkanku.”

Sang ayah tersenyum simpul. “Sekarang, kau harus belajar. Ujian sudah dimulai besok. Persiapkan dirimu dan jangan lupa berdoa. Dan ingatlah pesan ayah tadi. Kejujuran.”

Aya mulai sedikit lega akibat semangat ayahnya. Malam harinya, belajar dan berdoa supaya diberi kemudahan. Menyiapkan semua yang dibutuhkan saat ujian termasuk juga nasihat ayahnya.

Apa yang dikatakan ayahnya, membuat Aya benar-benar lega. Saat ujian, ia tidak mempedulikan keadaan sekitar dan terus mengerjakan soal. Ia tetap fokus meskipun banyak tawaran teman-temannya di sana-sini. Bahkan, ia menolak menerima secarik kertas kecilyang berisi sebuah angka dan huruf. Ia tetap tenang. Nasihat ayahnya selalu ia gunakan. Apapun hal itu, ia masih mengingatnya. Mengingat wajah bijak ayahnya, ia tak berani membohonginya. Hanyalah ayah-lah yang ia punya saat ini.

Selepas empat hari ujian, Aya benar-benar menyerahkan dirinya. Ia tetap berdoa. Ayahnya tak berhenti memberikan nasihat kepadanya ataupun sekedar bercerita setiap sore di bawah pohon yang rindang. Sesekali ia menceritakan kepada ayahnya bahwa ia menaati nasihat ayahnya.

Sang ayah tersenyum seperti biasanya. Mengusap rambut Aya dengan lembut. “Itu baru anakku.”

Setelah beberapa minggu menunggu, tibalah saat yang mendebarkan bagi seluruh siswa SMP. Begitu juga dengan Aya. Sebelumnya, ayahnya meyakinkan kepadanya untuk selalu menerima apapun yang kita dapat. Sang ayah mengatakan kepada Aya untuk menerima nilainya jika rendah dan tetap bersyukur jika menerima nilai yang tinggi.

Di sekolah, Aya sudah memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia sudah berpikir jika ujian nasional tahun ini lebih sulit dari ujian nasional sebelumnya. Mengingat, ada soal yang tidak sesuai kisi-kisi malah keluar atau soal yang harusnya ada di kisi-kisi tetapi tidak keluar dalam soal ujian nasional. Mengingat ia tidak menerima kunci jawaban yang sudah disebarkan dan memilih diam.

Aya kembali meyakinkan hatinya. Tidak boleh terpengaruh oleh pikiran-pikiran. Kejujuran dan menerima. Itulah hal yang diajarkan dari ayahnya.

Kertas-kertas berisi nilai ujian nasional mulai dipasang di papan pengumuman sekolah. Seluruh murid berkumpul menjadi satu di depan papan pengumuman. Aya berdesak-desakkan di antara murid-murid yang ingin melihat nilai. Sebenarnya Aya belum melihat nilainya, tapi melihat wajah teman-temannya yang sudah melihatnya, terlihat murung. Aya mulai berpikir, jika nilainya jauh lebih rendah dari teman-temannya.

Saat murid sudah mulai sedikit menyingkir, Aya menerobos di antara murid-murid. Melihat papan pengumuman satu-satu. Mata Aya tiba-tiba melebar. Ia berdiri mematung. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mendapatkan nilai tinggi di antara teman-temannya bahkan menjadi nilai tertinggi di sekolahnya.

Aya mendapatkan danem 37,5. Termasuk danem yang tinggi. Ia merasa senang sekali. Ia tidak menyangka ia akan mendapatkan nilai yang sangat bagus. Ia dulunya banyak berpikir buruk jika ia akan mendapatkan nilai yang jelek. Ia benar-benar merasa senang.

Aya masih mengingat pesan ayahnya. “Menerima dan bersyukur.” Ia sangat bersyukur dan tetap tidak sombong. Ia sekarang percaya dengan nasihat ayahnya. Tentang kejujuran. Ia akan tetap melakukan kejujuran di mana pun. Karena kejujuran selalu berbuah baik. Kejujuran tidak akan mengecewakanmu dan selalu mengikutimu di mana pun kau berada.

Aya tersenyum bangga. “Terima kasih, ayah. Nasihatmu sungguh berarti buatku.”

Kamis, 12 Mei 2016

JANGAN BILANG KARMA KARENA HUKUM KARMA MASIH BERLAKU



Namaku Karang, 21 tahun. Sebagai seorang mahasiswa, aku selalu disibukkan dengan sebuah skripsi. Aku juga seorang yang pintar dan banyak gadis di universitas menyukaiku karena aku adalah seorang laki-laki yang sempurna. 

Bagaimana tidak? Aku punya segalanya. Aku punya wajah yang tampan hingga setiap laki-laki yang melihat. Aku punya uang yang banyak hingga setiap wanita menginginkan hartaku. Aku punya otak yang cerdas hingga semua mahasiswa ingin seperti diriku.

Aku rasa aku kehidupanku sangat baik. Aku bisa memenuhi apapun tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga. Aku juga sangat populer di  universitasku. Tak juga, banyak agen majalah menarikku untuk menjadi model iklan majalah fashion bulanan. Ah, hidupku benar-benar indah.

Hanya saja, aku tak percaya kalau hukum karma itu benar-benar ada.

Bagaimana tidak? Di abad 21, tahun yang dipenuhi teknologi canggih dan manusia dengan akal yang luat biasa masih mempercayai hukum karma? Bodoh! Itu sama seperti ajaran nenek moyang yang sangat percaya hukum karma. Mereka selalu berkoar-koar, "Hukum karma masih berlaku." Aku rasa kalimat itu masih sering terdengar pada masa sekarang.

Soal hukum karma, aku tak percaya jika karma masih berlaku. Aku punya segalanya! Aku memiliki kasta golongan atas. Jadi, hukum karma kubuang jauh-jauh dari kamus besarku. Kuganti dengan "Hukum Karang." Hahaha....

Kali ini, seperti biasa aku kuliah. Aku mengendarai mobil keluaran terbaru yang membuat siapapun terkagum-kagum. Aku berhenti di lampu merah. Seorang nenek tua melintas tepat di zebracross. Nenek tua itu memiliki badan yang bungkuk dan baju yang compang-camping. Ia menyebrang sangat lambat. Membuatku tidak sabaran untuk menabraknya.

Kubunyikan klakson berkali-kali. Nenek tua itu tidak menghiraukannya. Kakinya bergetar setiap ia melangkah. Karena tidak sabar, aku membuka jendela mobil, mengatai nenek tua itu.

"Hei, nek! Bisakah kau berjalan lebih cepat?" Kataku dengan ketus.

Nenek itu tetap saja berjalan lambat. Ia sama sekali tidak merespon perkataanku sama sekali. Bahkan menolehpun tidak.

Aku semakin geram. Aku memainkan klakson mobil keras. Mumpung tidak banyak kendaraan yang berhenti di lampu merah saat itu. Budi yang mengendarai vespa bututnya menoleh ke arahku.

"Hei, karang! Bisakah kau tidak memarahi nenek itu? Dia sudah tua. Ingat! Hukum karma masih berlaku."

Argh! Dia mengatakan hukum karma yang tidak ada hubungannya dengan semua ini. Aku memang tidak ingin berurusan dengan dia lagi. Aku menutup kaca mobilku. Kulihat nenek itu sudah berada di sisi jalan. Lampu sudah berganti warna menjadi hijau. Aku langsung tancap gas, meninggalkan Budi dengan vespa bututnya.

Kulihat dari kaca spion. Entah mengapa, aku merasa aneh. Hukum Karma? Apa itu memang ada? Sesaat aku meragukan argumenku bahwa aku sama sekali tidak percaya adanya hukum karma. Aku menghela nafas panjang. "Itu tidak ada. Itu tidak ada."

Mobil yang kukendarai melaju dengan cepat. Aku merasa ketegangan menyelimuti tubuhku. Kucoba untuk menghidupkan musik untuk di dengar. Anehnya, aku tidak mendengar apapun. Bahkan aku baru menyadari kalau itu rusak.

Aku mendengus kesal. Kenapa disaat seperti ini harus rusak? Aku mencoba untuk rileks dan tetap fokus di jalanan.

Tiba-tiba terdengar bunyi jatuh di belakang mobilku. Aku penasaran langsung menoleh ke belakang. Namun, tidak ada sesuatu dan semuanya nampak rapi. Aku menghela nafas sambil memegangi dahiku. Aku rasa, aku mulai membayangkan sesuatu yang tidak-tidak semenjak aku melihat nenek aneh itu melintas.

“Hukum karma, ya? Jadi kau tak percaya hukum karma?”

Suara aneh tiba-tiba terdengar serak di telingaku. Aku kembali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Aku kembali mengarah ke depan dan berusaha memfokuskan pandanganku ke jalanan. Tenang-tenang, kau sedang menyetir. Bagaimana jika kau harus berhadapan dengan hukum jika kau kecelakaan?

Tiba-tiba ada sesuatu yang menempel di leherku. Sesuatu itu menempel dingin di leherku. Sesuatu itu seperti mencengkram leherku. Tapi, tunggu dulu. Mencengkram? Aku langsung menoleh ke belakang dengan pelan. Memaksakan kepalaku yang sudah mulai mendingin.

Aku mematung. Melihat sosok itu yang mencengkram leherku. Tangan-tangan kurus yang dingin, dengan kuku-ku panjang nan kotor itu mencengkram leherku. Meskipun cengkremannya tidak kuat, tapi aku bisa merasakan kuku tajamnya seperti mau merobek leherku.

Sesaat kemudian, ia menghilang dari hadapanku. Tanpa sadar, aku hampir melebatibatas jalan. Aku menghela nafasku. Bagaimana itu bisa terjadi? Kenapa ia menghilang dari hadapanku? Aku meneruskan kembali dan mencoba fokus ke jalan lagi.

Tiba-tiba, telingaku bergetar. Bukan. Seperti ada yang menyentuh telingaku.

Lagi-lagi sentuhan dingin itu. Aku merasakan sentuhan dingin itu. Jari-jari dengan kuku yang tajam itu memegang telingaku. Lembut. Namun, aku merasa merinding dan tak bisa menoleh. Kepalaku terasa dingin. Aku mematung, meskipun dalam keadaan berkendara.

Sosok itu mendekatkan bibirnya di telingaku. Tersenyum sambil menampakkan gigi-gigi kuning nan kotor. Jari telunjuknya mengarahkan ke telinga bagian kiri. Ia berbisik, “Jadi, kau tak percaya hukum karma, ya?”

Aku terdiam. Benar-benar sangat mencekam! Bibirku terkatup rapat. Tak bisa bicara apapun.

Sosok itu semakin mendekatkan jari telunjuknya ke arah telingaku. “Apa kau bilang? Aku sama sekali tidak mendengarkan perkataanmu. Bagaimana kalau aku membuatmu merasakan bagaimana hukum karma sesungguhnya?”

Seketika aku terdiam. Tidak bergeming. Jari-jari itu menusuk dalam telingaku. Membuat tanganku lepas kemudi. Menghantam jalan. Membuat kemacetan di sepanjang jalan. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Aku menoleh ke sisi belakang. Dimana sosok itu? Dia menghilang entah kemana.

Kesadaranku mulai menghilang. Sedangkan banyak mobil polisi yang mulai berdatangan mengerumuniku. Tiba-tiba pandangan di sekitarku berubah gelap. Suara mobil Ambulans yang mulai mendekat, semakin tak terdengar. Pandanganku mulai gelap dan aku tak mendengar suara apapun.

***

Aku membuka mataku perlahan. Melihat sekeliling yang nampak asing bagiku. Aku ada dimana? Aku melihat seorang suster yang berada di samping seorang dokter. Jadi, aku dilarikan di rumah sakit?

Dokter itu tersenyum kepadaku. Ia lalu membuka mulutnya, seperti mengatakan sesuatu padaku. Aku hanya menggeleng pelan. Tidak mengerti apa yang ia katakan. Lebih tepatnya aku tidak mendengar apapun yang ia bicarakan. Tunggu dulu? aku tidak bisa mendengar apapun? Aku merinding, lalu menoleh ke arah dokter dengan tatapan sedih.

Terlihat raut muka dokter tadi berubah. Suster yang ada di sampingnya membawakan sebuah papan tulis. Kulihat dokter itu tengah menulis sesuatu untukku. Setelah itu, ia menunjukkan ke arahku, dengan tulisan yang besar-besar.

“Maaf, kami telah menyelematkan nyawa anda, kecuali pendengaran anda.”

Aku membaca tulisan itu. Aku terhenyak seketika mendapati bahwa aku tidak dapat mendengar lagi untuk selamanya. Aku melampiaskan kemarahanku dengan menarik-narik selimut. Menggenggamnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba aku teringat dengan wanita tua yang pernah aku hardik waktu itu dan sosok yang berada di belakang mobilku waktu itu. Mungkinkah itu orang yang sama?

Aku menginggit bibirku. Aku menarik perkataanku dan menggantinya dengan, “Aku percaya bahwa hukum karma itu ada.”

Kamis, 24 Maret 2016

Sepotong Sandwich



Hujan mengguyur kota ini begitu derasnya. 

Aku terpaksa mampir di salah satu kafe terdekat dari tempat kerjaku. Aku memesan sebuah cappuccino hangat untuk menghangatkan tubuhku yang sedikit basah karena terkena air hujan. Sesekali, kubuka layar ponselku. Keningku berkerut samar melihat beberapa pesan yang masuk dari ponselku. Semuanya berisi tentang pekerjaan.

Hujan mengguyur kota ini begitu derasnya. 

Ah, mungkin aku akan pulang terlambat hari ini. Mataku menerawang bebas ke arah jendela. Lebih tepatnya, melihat tetesan hujan yang turun dari langit. Entah mengapa pikiranku melayang jauh, memikirkan kejadian yang pernah aku alami sewaktu hujan. Aku melamun beberapa saat hingga secangkir cappuccino yang telah kupesan datang.

Aku menyesap cappuccino yang kupesan dan berusahan untuk menghilangkan pikiran-pikiran negative. Uh, cappuccino ini membuat tubuhku hangat.

Soal kejadian saat hujan, sebenarnya aku sangat takut untuk pulang sendiri. Apalagi disaat hujan begini. Aku benar-benar takut saat melewati sebuah gang gelap menuju jalan rumahku. Apalagi, aku pernah bertemu sesosok “itu” saat hujan mengguyur. Aku yang membawa paying, berlari ketakutan dan melemparkan payungku ke sembarang tempat. Mataku menerawang jendela kaca besar kafe. Ya Tuhan! Sungguh aku benar-benar takut!

Apa yang terjadi jika aku melewati gang tersebut, sesosok itu muncul? Seingatku, sosok itu jelas. Hanya bayang-bayang yang terlihat oleh mataku.

Aku segera menghapus pikiran negatifku. Aku memutuskan untuk segera pulang. Aku juga sudah membawa paying karena prediksi cuaca hari ini tidak menentu.

Sebelum itu, aku membayar cappuccino hangatku dan˗˗ aku memesan sebuah sandwich untuk aku bawa pulang. Aku mengeluarkan uang dari dompetku dan menyerahkannya kepada kasir. Sandwich yang telah aku pesan sudah berada di tanganku sekarang dan aku sudah bersiap-siap pulang.

Kubuka payungku, tepat saat aku keluar dari kafe tersebut. Hujan nampak mulai reda dan aku pun berjalan dengan hati-hati. Maksudku, aku harus berhati-hati terkena cipratan air yang biasanya dilakukan oleh kendaraan besar. Bisa jadi, bajuku kotor dan tidak bisa dicuci.

Sejauh ini, aman-aman saja. Aku melangkah dengan percaya diri menuju jalan pulang. Aku berjalan ditengah-tengah hujan lebat. Tak terasa, langkahku mulai mendekat ke gang gelap yang ada di ujung.

Aku menelan ludah. Kurasakan tanganku gemetar saat memegang payungku. Aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian.

Sekarang, aku melewati gang gelap itu. Dalam hati, aku berdoa agar aku selamat sampai tujuan. Aku menatap lurus. Ya Tuhan, gang ini sungguh gelap! Ini seperti tempat untuk uji nyali. Aku juga melihat kucing hitam yang melintas di depan. Pikiranku langsung kacau dan dipenuhi oleh pikiran buruk. Tidak. Kau harus berani. Itu hanyalah kucing. Itu hanyalah mitos.

Tap tap tap

Aku mendengar suara langkah kaki yang berada di belakang. Suara itu semakin jelas terdengar. Aku tidak berani untuk melihat kebelakang. Kuputuskan untuk mempercepat langkahku. Tetapi, langkah kaki itu malah semakin keras. Seperti sedang mengejar diriku. Aku mempercepat langkahku sekali lagi. Berusaha keluar dari gang gelap itu secepat mungkin. Suara itu semakin mendekat, mendekat, mendekat dan˗˗˗


“Arghhhhh!!!” aku berteriak kencang saat sosok yang berada dibelakangku memegang leherku. Aku memejamkan mataku. Tubuhku bergetar. Jari-jari sesosok itu sangat dingin. Membuatku semakin bergetar. Mau tidak mau, aku harus menoleh ke belakang untuk melihat siapa sosok yang mencengkram leherku. 

Kutengok ke belakang, aku terkejut bukan main. Seorang kakek tua dengan tubuh kurus dan memmiliki luka goresan di pipinya. Aku memegang dadaku. Jantungku berdegup kencang. Kucoba membuka mulutku. “Si-siapa kau?”

Kakek tua itu terdiam beberapa saat. Ia kemudian mengangkat telunjukknya. Menunjuk kea rah bungkusan sandwich yang kupegang. “Aku lapar. Sudah beberapa hari, aku tidak makan. Bolehkan kau beri aku makanan?” ujar kakek tua itu.

Aku berpikir sejenak. Jika sandwich ini aku berikan, aku akan tidak makan mala mini. Jika aku berikan˗˗ bagaimana ya? Ku coba menanyakannya kepada kakek tua itu. “Aku akan memberikan makanan ini padaku. Tapi, apakah kau harus berjanji tidak akan mengangguku selama aku melewati gang ini”

Kakek tua itu mengangguk. “Aku berjanji. Aku akan tidak menganggumu”

Kuberikan bungkusan yang berisi sandwich kepada kakek tua itu. Kakek tua itu menerimanya sambil tersenyum. Tanpa ucapan terima kasih, ia langsung berlari menjauh dariku. Aku memandangnya cukup aneh. 

Tapi, aku tak memperdulikan hal itu. Yang penting, dia tidak akan mengangguku kedepannya.

Aku melangkah keluar dari gang gelap itu. Entah mengapa, beban di hatiku menghilang. Aku semakim percaya diri dan tidak takut lagi untuk melewati gang gelap tersebut.

Sesampainya di rumah, aku mengeluarkan sebuah kunci dari tasku. Sebelum aku memasukkan kunci ke lubangnya, aku melihat kertas putih yang ditempatkan di bawah pintu. Aku mengambilnya dan membacanya. “TERIMA KASIH” aku cukup terkejut dengan tulisan tersebut karena tulisan tersebut ditulis menggunakan darah.
 
Aku langsung memutar kunci dan masuk kedalam rumah. Suatu saat, aku akan mengambil jalan lain dan tidak akan pernah melewati gang gelap itu kembali.